- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Selasa, 06 September 2011

B A W A K

BAWAK yang artinya "o-BA-hing a-WAK atau Geraknya Tubuh ..
Maksudnya : sebagai insan yang diberi hidup, sudah wajib bagi mereka untuk menggerakan tubuh agar menjadi sehat.

P A C U L

PACUL yang artinya : "ngi-PA-take barang kang mun-CUL" yang maksudnya membuang bagian yang 'mendugul' (semacam benjolan yang tidak rata di atas tanah). Sifatnya untuk memperbaiki.
Sebagai umat Islam yang memiliki wadah dan memiliki nilai kesempurnaan, sudah seharusnya kita selalu berbuat baik pada setiap insan lain tanpa memandang apapun.

MAKSUD "TAK IJO ROYO-ROYO"

Kata "Tak ijo royo-royo" itu mangandung arti : di buat tumbuh subur dan berkembang dengan daunnya hijau segar penuh keteduhan. Dan dapat membawa manfaat bagi insan lainnya.

MAKSUD "TANDURE WUS SUMILIR"

Kata "Tandure wus sumilir" mengandung maksud : benih yang ditanam sudah mulai tumbuh.
Yang dimaksud "benih" disini adalah benih "Iman". Yang Sudah barang tentu, Iman ke-Islaman yang tersimpan pada diri insan semenjak mereka terlahir di muka bumi ini.

MAKSUD "LIR-ILIR, LIR-ILIR"

Kata "Lir-ilir" berasal dari kata "ngililir" (bahasa jawa) yang artinya bangun atau bisa diartikan hiduplah (karena sejatinya tidur itu mati) bisa juga diartikan sebagai sadarlah. Atau tersadar kembali, "Sadar kembali dari kerterpurukan". Dimana pencerminan yang dulu, tak di dasari oleh iman dalam keislaman.

WEJANGAN DIBALIK TEMBANG "ILIR-ILIR"

Untaian tembang "Ilir-ilir" yang di ciptakan oleh "SUNAN KALIJAGA" atau "RADEN SAID". Pada dasarnya mengandung wejangan (Nasehat) yang amat dalam dan amat bermanfaat bagi insan yang menempuh jalur hidup. Disamping mengandung nasehat yang amat tinggi, tembang "Ilir-ilir" juga berguna menciptakan atau mewujudkan Iman yang sesungguhnya. karena disetiap baitnya, mengandung makna terdalam.

Pencerminan dalam tembang "Ilir-ilir" tersebut, tak lain tak bukan hanya untuk menjadikan seseorang agar bisa menjadi muslim yang baik. Yang bisa mewujudan melalui pencerminan sebagai insan yang sejati.
Semua yang tersirat dalam tembang "Ilir-ilir", merupakan anjurkan untuk menjalan amanah yang ditetapkan oleh-Nya. Atau juga merupakan suatu ajakan untuk menjadi orang Islam yang baik. Yang mematuhi segala titah yang diperintah oleh-Nya.

Bila di renungkan secara mendalam apa yang tersirat dari suratan tembang "Ilir-ilir", akan ditemukan kunci dasar yang menjadi rumusan untuk menentukan langkah yang lebih baik dan yang akan di ridhoi oleh-Nya.
Dan secara global ada beberapa perenungan dalam tembang "Ilir-ilir" yang bisa disimak dan dikupas :
  1. Bait pertama, mulai bangkitnya Imam Islam.
  2. Bait kedua, merupakan perintah untuk melaksanakan kelima Rukun Islam.
  3. Bait ketiga, bertobat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Kesemuanya untuk bekal kelak bila mati.
  4. Dan bait selanjutnya punya arti yang menyimpulkan "mumpung" ada kesempatan baik.

 MAKSUD "LIR-ILIR, LIR-ILR"

SENYUM NABI BERSAMA AL-HUSAIN

RASULULLAH SAW senantiasa diharapkan oleh banyak orang karena pribadi beliau yang sangat utuh dan sempurna. Kasih sayangnya dapat dirasakan oleh semua makhluk Allah. Belaian kasih sayangnya terasa menyejukan nrani anak-anak.
Bahkan, kasih sayang Rasulullah SAW terhadap anak-anak melebihi kasih sayang bapak-bapak pada umumnya yang ada di Madinah. Kelembutan beliau terhadap anak kecil terkadang cukup mengherankan para sahabat.
Meskipun Rasulullah SAW adalah seorang Nabi sekaligus Rasul, itu tidak menjadikan beliau jauh dari anak-anak. Justru kesukaan beliau dengan anak kecil menjadikan beliau sering tampak bergurau dengan mereka, bagaikan sahabat lama yang baru berjumpa.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasullah SAW pergi bersama para sahabat untuk menghadiri suatu undangan jamuan makan. ketika mereka sedang berjalan, beliau melihat cucunya, Al-Husain, sedang bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Maka, Rasullah SAW pun meluangkan waktu sebentar sekedar untuk bercanda dengan Al-Husain.

Beliau mendekat dan berusaha memegang cucunya. Namun, Al-Husain menghindar menjauhi beliau. Rasullah bertambah penasaran. Dikejarnya Al-Husain, hingga tertangkap. Setelah Al-Husain terpegang tangannya, beliau pun merasa puas. Diciumnya Al-Husain berulang-ulang dengan gemasnya hingga dada Rasullah terasa lega. setelah itu, beliau tersenyum dengan senyum yang menyiratkan kebanggaan dan kasih sayang mendalam.

Melihat kejadian itu, para sahabat pun merasa heran. Ternyata sedemkian besarnya kasih sayang Rasullah SAW terhadap anak kecil. Maka, beberapa diantara mereka pun berkata, "Rasullah SAW memperlakukan cucunya sedemikian sayangnya. Demi Allah, aku juga punya anak, tetapi aku belum pernah menciumnya." Saat mendengar ucapan sahabat ini, Rasullah SAW lalu berkata kepadanya, "barang siapa tidak mengasihi, maka ia pun tidak akan dikasihi."

Pedoman pendidikan yang dikemukakan oleh Rasullah SAW dalam kejadian diatas itu merupakan sebuah contoh nyata bagi orang tua, bagaimana mengasihi dan menyayangi putra-putrinya. Sebab, anak itu senantiasa membutuhkan perhatian orang tua untuk menjaga kestabilan pertumbuhan jiwanya.