- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>
Tampilkan postingan dengan label SENYUM RASULULLAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENYUM RASULULLAH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2011

SENYUM NABI MENGENAI ANAK UNTA

Kapasitas Muhammad SAW sebagai seorang nabi dan juga seorang rasul yang membawa “rahmatan lil alamin”. Rasulullaf SAW memang di tuntut untuk bersikap adil dalam menyikapi hidup. Adil dalam hukum-hukum agama, maupun adil dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab bila beliau bersifat kakuh dalam merumuskan pencerminan dalam hidup, maka kaumnya pasti akan menjauhinya.

SENYUM NABI TENTANG PAKAIAN KEBESARAN

Raulullah SAW memiliki kurang lebih 10 istri. Dan semua itu merupakan pengecualian dari Allah untuk beliau.

Selasa, 06 September 2011

SENYUM NABI BERSAMA AL-HUSAIN

RASULULLAH SAW senantiasa diharapkan oleh banyak orang karena pribadi beliau yang sangat utuh dan sempurna. Kasih sayangnya dapat dirasakan oleh semua makhluk Allah. Belaian kasih sayangnya terasa menyejukan nrani anak-anak.
Bahkan, kasih sayang Rasulullah SAW terhadap anak-anak melebihi kasih sayang bapak-bapak pada umumnya yang ada di Madinah. Kelembutan beliau terhadap anak kecil terkadang cukup mengherankan para sahabat.
Meskipun Rasulullah SAW adalah seorang Nabi sekaligus Rasul, itu tidak menjadikan beliau jauh dari anak-anak. Justru kesukaan beliau dengan anak kecil menjadikan beliau sering tampak bergurau dengan mereka, bagaikan sahabat lama yang baru berjumpa.

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika Rasullah SAW pergi bersama para sahabat untuk menghadiri suatu undangan jamuan makan. ketika mereka sedang berjalan, beliau melihat cucunya, Al-Husain, sedang bermain-main dengan teman-teman sebayanya. Maka, Rasullah SAW pun meluangkan waktu sebentar sekedar untuk bercanda dengan Al-Husain.

Beliau mendekat dan berusaha memegang cucunya. Namun, Al-Husain menghindar menjauhi beliau. Rasullah bertambah penasaran. Dikejarnya Al-Husain, hingga tertangkap. Setelah Al-Husain terpegang tangannya, beliau pun merasa puas. Diciumnya Al-Husain berulang-ulang dengan gemasnya hingga dada Rasullah terasa lega. setelah itu, beliau tersenyum dengan senyum yang menyiratkan kebanggaan dan kasih sayang mendalam.

Melihat kejadian itu, para sahabat pun merasa heran. Ternyata sedemkian besarnya kasih sayang Rasullah SAW terhadap anak kecil. Maka, beberapa diantara mereka pun berkata, "Rasullah SAW memperlakukan cucunya sedemikian sayangnya. Demi Allah, aku juga punya anak, tetapi aku belum pernah menciumnya." Saat mendengar ucapan sahabat ini, Rasullah SAW lalu berkata kepadanya, "barang siapa tidak mengasihi, maka ia pun tidak akan dikasihi."

Pedoman pendidikan yang dikemukakan oleh Rasullah SAW dalam kejadian diatas itu merupakan sebuah contoh nyata bagi orang tua, bagaimana mengasihi dan menyayangi putra-putrinya. Sebab, anak itu senantiasa membutuhkan perhatian orang tua untuk menjaga kestabilan pertumbuhan jiwanya.

SENYUM NABI KETIKA MENGENALI HINDUN

Jika kita tengok sejarah kehidupan Nabi Muhammad Rasulullah SAW, tentu kita teringat pula dengan sosok perempuna yang satu ini. Kiprahnya dalam dunia kejahatan terhadap kaum Muslimin setara dengan kejahatan suaminya, Abu Sufyan bin Harb. Dialah Hindun binti Uthbah. Mungkin tidak melalui tenaga dan pikiran Hindun Hindun hampir tiap hari berkeliling untuk memprovokasi perempuan-permpuan Quraisy untuk memusuhi Islam.
Akan tetapi, kejahatan yang paling sadis dan paling dikenal dalam sejarah Islam ialah ketika ia membedah jantung HAMZAH, korban Perang Uhud dan memamah-mamah jantung dan hatinya.

Ketika Allah memenuhi janji-Nya untuk memenangkan kaum Muslimin dalam Fathu Mekah, tidak ada seorang pun dari penduduk Mekah kecuali mereka masuk Islam. Yang masih kerap bertahan dengan kekafirannya melarikan diri entah kemana karena takut pembalasan dendam dari kaum muslimin.
Penaklukan Kota Mekah oleh kaum Muslimin yang terjadi pada tahun kedelapan Hijriyah berlangsung mulus tanpa pertumpahan darah.
Sebab, ketika melihat keagungan pasukan Muslimin, orang-orang kafir Quraisy merasa ketakutan dengan sendirinya.
Mereka baru mengetahui kehebatan pasukan Islam yang membawa kebenaran. Sebab itulah mereka tidak punya pilihan lain kecuali menyerah dan masuk Islam.

Akhirnya, mereka berbondong-bondong menghadap Rasulullah SAW. untuk menyatakan masuk Islam serta bersumpah setia kepada beliau. beramai-ramai mereka berbaiat kepada Rasulullah SAW yang ketika itu berada di Shafa.
Sementara itu, Umar Ibnu Khathab berada di dekat beliau, memegang tangan orang-orang yang berbaiat. Mereka menyatakan sumpah setia kepada Rasulullah SAW. untuk taat dan tunduk terhadap ajaran agama Islam.
Di dalam kitab Al-Madarik diriwayatkan sebagai berikut. Rasulullah SAW membaiata kaum laki-laki dengan memegang tangan mereka (bersalaman), dan beliau membaiat kaum perempuan dengan tidak memegang tangan mereka.
Sebab, Rasulullah SAW. tidak bersentuhan dengan perempuan yang bukan muhrimnya. beliau membaiat para perempuan itu untuk tunduk kepada perintah beliau dan menyampaikan papapun yang berasal dari beliau.

Pada saat baiatberlagsung, diam-diam muncullah Hindun binti Uthbah dalam mejelis itu. Ia datang dengan sembunyi-sembunyi karena masih merasa takut kehadirannya akan di ketahui oleh Rasulullah SAW. Hindun menghindari bertemu muka dengan Rasulullah SAW. karena teringat akan kejahatannya yang menyayat-nyayat tubuh Hamzah, paman Rasulullah SAW dalam perang Uhud.
Setelah orang yang hendak di baiat berkumpul semua, Rasulullah SAW. berkata, "Aku membaiat kalian untuk tidak menyekutukan sesuatu apa pun kepada Allah".
Selanjutnya Umar mengulang membaiat mereka untuk tidak menyekutukan sesuatu apa pun kepada Allah. Rasulullah SAW. lintas berkata lagi, "mereka tidak mencuri".

Tiba-tiba Hindun muncul dan berkata, "Sesungguhnya Abu Sufyan ialah orang yang kikir. Bagaimana jika aku mengambil sedikit dari hartanya ??" Abu Sufyan yang mendengar ucapan Istrinya langsung berkata. 'Apa yang engkau ambil semuanya halal bagimu".
Ketika mendengar ucapan suami isteri yang baru saja bertobat itu, Rasulullah mengembangkan senyumannya. Dari situlah beliau mengenali siapa perempuan yang menyela baiatnya tadi. Maka teringatlah Rasulullah SAW dengan perbuatannya memamah jantung hati pamannya.
Beliau lantas bertanya, "Benarkah engkau yang bernama Hindun ?!?".
Hindun menjawab, "Benar, akulah perempuan yang bernama Hindun". lalu ia berkata lagi, "Wahai Nabi Allah, Ampunilah kesalahanku yang telah lampau. Niscaya Allah akan mengampunimu pula".

Tanpa mengomentari ucapan Hindun, Rasulullah meneruskan baiatnya, "mereka tidak boleh berzina". Hindun lantas bertanya, 'Apakah ada perempuan merdeka yang berzina ?!?". Rasulullah SAW melanjutkan, "Mereka tidak boleh membunuh anak-anak". Hindin berkata, "Kamilah yang mengasuh mereka. Tetapi, setelah mereka besar, kalianlah yang membunuhnya".
Saat mendengar kelakar Hindun yang kedengarannya lucu itu, sahabat Umar tertawa terpingkal-pingkal sampai badannya terguncang karena merasa geli mendengarnya. Sedangkan Rasulullah SAW hanya tersenyum. Kita tahu bahwa anak Hindun yang bernama Hanzahalah mati terbunuh dalam Peran Badar.

Rasulullah SAW bersabda, "Mereka tidak boleh berbuat dusta". Lagi-lagi Hindun mengomentari, "Demi Allah, dusta adalah perkara yang amat buruk, sedangkan engkau tidak menyuruh kami kecuali kepada petunjuk dan akhlak mulia".
Rasulullah SAW bersabda lagi, "Mereka tidak boleh mendurhakai aku dalam perkara yang makruf".
"Demi Allah !! kami tidak duduk di tempat ini, sedangkan di dalam relung hati kami ada niat untuk mendurhakai engkau". Ujar Hindun lagi.
Setelah selesai berbaiat, Hindun pulang kembali ke rumahnya. Di rumahnya ia merobohkan semua patung-patung yang dulunya ia sembah-sembah. Dengan kemarahan yang meluap ia berkata dengan keras, "Dulu kami terpedaya olehmu".
Rasulullah SAW. tersenyum karena mendengar perkataan Hindun yang bernada kesal namun jenaka, sehingga Umar yang mendengarnya juga turut tertawa terpingkal-pingkal sampai badannya terlentang.

SENYUM NABI BERSAMA ANAS BIN MALIK

Anas bin Malik merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW di dalam rumah tangga. Bisa dikatakan dalam istilah zaman sekarang Anas bin Malik merupakan manajer beliau. Apa saja yang beliau perlukan, Anas bin Maliklah yang menanganinya.
Hubungan Anas bin Malik dengan Rasulullah SAW bukan sekedar seorang budak dengan majikan. Ibu Anas bin Malik yang dulu menyerahkan sendiri puteranya supaya hidup dalam lingkungan keluarga Rasulullah SAW dan selalu dalam perlindungan beliau. Hubungan Rasulullah SAW dengan Anas pun amat baik, bahkan akrab. Sesekali jika Rasulullah SAW menginginkan tenaganya untuk mengerjakan sesuatu, Anas pura-pura menolak untuk menggoda hati beliau. Begitulah kelakuan Anas sekadar untuk bergurau dengan beliau. Dan beliau pun sering mencandai Anas. jadi, hubungan yang terjadi antara Rasulullah SAW dan Anas bukan sekadar pembantu dan majikan, melainkan hampir menyerupai teman atau sahabat.

para sahabat yang menjadi tetangga beliau paham betul akan ciri khas Rasulullah SAW ini. mereka mengetahui kepribadian Rasulullah SAW yang demikian agung dan anggun. Dalam hubungan dengan siapa pun beliau senantiasa menampakkan wajah keceriaannya, termasuk dengan pembantunya. Beliau jarang menegur apalagi samapai memarahi pembantunya jika melakukan kesalahan dalam pekerjaan. Dalam hal ini Anas bin Malik pernah bercerita, "Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik akhlaknya. Pada suatu hari beliau pernah mengutusku untuk suatu keperluan. Mendengar permintaan beliau ini, aku mengatakan kepada beliau bahwa demi Allah, aku tidak akan pergi". Namun dalam hatiku, aku akan pergi melaksanakan perintah beliau tersebut.

Kemudian aku keluar berjalan hingga melewati kerumunan anak-anak yang sedang bermain di tengah keramaian pasar. Tiba-tiba Rasulullah SAW sudah berada dibelakangku. ketika aku menolehkan kepalaku, kutemukan seulas senyum menyejukkan dari bibir beliau. lalu beliau bertanya kepadaku, 'wahai Anas, apakah engkaa mau pergi sebagaimana yang aku perintahkan?'. lantas aku menjawab, "Benar, ya Rasulullah,m aku segera berangkat".
Memang benar, selama sembilan tahun aku membantu beliau, belum pernah beliau itu mengomentari pekerjaan yang aku lakukan. beliau juga tidak pernah mencela sesuatu kepadaku, Demi Allah, beliau belum pernah berkata, 'Cih ..'. kepadaku.

SENYUM NABI KARENA ULAH NU'AIMAN

NU'AIMAN bin Amru, salah seorang sahabat Anshar yang sering sekali mengerjai teman-temannya dan para sahabat lain. Karena sering mengerjai orang, dia juga sering dikerjai sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang lain.
Demikian halnya dengan Rasulullah SAW. Beliau sering dikerjai oleh Nu'aiman dan menjadi sasaran langsung lelucon mereka, karena mereka tahu kalau Rasulullah itu bukanlah pendendam dan beliau tidak akan marah dengan ulah merekah. Dan mungkin justru beliau menyukai lelucon itu dan bisa tersenyum geli melihat tingkah laku mereka.

Nu'aiman bin Amru merupakan salah seorang sahabat yang sering mengerjai Rasulullah SAW dan menjadikan beliau sebagai bahan leluconnya. Hal ini berarti keakraban dan keramahan Rasulullah SAW dengan para sahabatnya sangat terjaga, sekaligus membuktikan bahwa beliau dapat menerima lelucon tersebut.
Suatu ketika Rasulullah sedang berada di masjid, ada seorang badui yang datang menemui Rasulullah di dalam masjid. Beberapa sahabat beliau ada yang melihat kedatangan orang badui tersebut. Maka timbul keisengan untuk memakai tangan tangan Nu'aiman dalam mengerjai Rasulullah.

Mereka segera berkata kepada Nu'aiman yang kebetulan sedang bersama mereka. Kata mereka, "Wahai Nu'aiman, bagaimana kalau kau sembelih saja unta badui itu, kemudian dagingnya kita makan bersama-sama ?!? Sebab kita sudah lama tidak makan daging unta. Nanti biar saja Rasulullah SAW yang membayar harganya". Tanpa pikir panjang, Nu'aiman pun menyetujui saja usulan teman-temannya itu tanpa memandang bahwa yang hendak di permainkan adalah Rasulullah, Nabi junjungan mereka. Maka di sembelilah unta itu.

Ketika orang Badui itu keluar dari masjid, alangkah terkejutnya dia melihat untanya sudah terkapar tak berdaya di tanah. Darah segar masih berceceran di sekitarnya. Seketika itu ia berteriak, "Ya Muhammad, untaku telah disembelih orang".
Rasulullah SAW terkejut sekali ketika mendengar teriakan orang Badui itu. Langsung saja beliau keluar dari masjid. Di halaman masjid terlihat oleh beliau unta yang sudah mati disembelih, serta orang Badui yang sedang berdiri kebingungan. Maka, beliau segera bertanya kepada para sahabatnya, "Siapa yang melakukan penyembelihan unta orang badui ini ?!?".
Mereka menjawab, "Nu'aiman, ya Rasulullah !?! Kini ia sedang bersembunyi karena takut pada engkau".
Seketika itu pula, beliau segera mencari Nu'aiman yang tengah bersembunyi dengan mengikuti jejak-jejak kakinya. Jejak kakinya menunjukkan bahwa Nu'aiman bersembunyi di sekitar rumah Zubair bin Abdul Muththalib. Dan benarlah dugaan Rasulullah.
Rupanya Nu'aiman bersembunyi di sekitar rumah tersebut. Ia masuk ke sebuah lubang yang pintunya ditutupi dengan pelepah daun kurma.

Karena tahu bahwa Rasulullah saw. Mencari Nu'aiman, seorang warga yang melihatnya mengatakan, "Aku tidak melihatnya, ya Rasulullah !?! Tetapi, jari telunjuknya diarahkan ke tempat bersembunyian Nu'aiman.
Bergegas Rasulullah SAW menuju tempat persembunyian Nu'aiman. Disana beliau mendapat Nu'aiman berada dalam lubang. Kemudian beliau mengeluarkan Nu'aiman dan dari dalam lubang tersebut dan membersihkan wajah Nu'aiman yang berlumuran tanah.
Setelah membersihkan wajah Nu'aiman, beliau bertanya, "Apa yang mendorongmu untuk berbuat begitu, wahai Nu'aiman ?!?". Nu'aiman menjawab, "Yang memberitahukan Rasulullah itulah orang-orang yang menyuruh aku menyembelih unta badui tersebut. Bahkan, mereka mengatakan bahwa engkaulah nantinya yang akan membayar harga unta tersebut".

Rasulullah tersenyum geli mendengar alasan Nu'aiman. Setelah itu, kemudian beliau membayar ganti rugi pada pemilik unta tersebut. Seperti itulah ulah sahabat Rasulullah yang satu ini. Betapa repotnya terkadang Rasulullah meladeni tingkah laku para sahabatnya yang usil. Seperti yang dilakukan Nu'aiman, gara-gara kelakuannya, beliau harus rela mengeluarkan uang ganti rugi unta orang badui itu.
Meskipun demikian, Nu'aiman tetaplah sahabat yang tingkah lakunya konyol. Dan Rasulullah pun tetap membutuhkan lawakan dari Nu'aiman. Terkadang beliau berkata, "Pendengarkan kepada kami lelucon-leluconmu, hai Nu'aiman !?!".
Nu'aiman juga sering datang kepada Rasulullah saw. dan mengucapkan kata-kata yang membangkitkan senyum beliau.

RASULULLAH SAW

MUHAMMAD SAW adalah sosok manusia yang begitu mulia. Beliau adalah seorang nabi sekaligus rasul. Jika kita memandang sosok Rasulullah dari sisi kenabian atau bahkan melihat beliau sebagai seorang Rasul Allah, maka dalam benak kita tidak akan pernah terpikir bahwa Rasulullah gemar bersenda gurau bersama para sahabat beliau.
Dalam pandangan orang-orang biasa, Rasulullah adalah manusia dengan tingkat ketaatan kepada Allah begitu tinggi dan kekhusyu'an dalam beribadah. Sehingga dalam benak kita beliau sangat jauh dari hal-hal yang bersifat duniawi, dalam hal ini adalah senda gurau.

Jika kita memandang beliau dari sisi kemanusiaan, tentu Rasulullah sama halnya dengan manusia lainnya yang tidak lepas dari kejenuhan ataupun kepenatan dalam menjalani kehidupan. Beliau juga butuh 'refresh' pikiran dengan bersenda gurau bersama para sahabat.
Akan tetapi, kita jangan pernah beranggapan bahwa Rasulullah dalam bercanda tidak mempunyai batasan-batasan tertentu atau bahkan kelewat batas. Beliau merupakan insan kamil (manusia sempurna) yang dari sisi lain tidak sama dengan manusia biasa. Beliau tidak berkata kecuali yang benar (jujur).
Dalam sebuah riwayat, dikatakan, "Sesungguhnya aku juga bercanda, namun aku tak mengatakan kecuali yang benar," (HR At-Thabrani).

Pada hakekatnya, bercanda itu dilarang atau tercela. Hanya kecil sekali yang di perbolehkan. Sebagaimana sabda Rasulullah berikut ini : "Janganlah kamu berbantahan dengan saudaramu dan janganlah kamu bersenda gurau dengannya" (HR. At-Tirmidzi). Memang benar adanya, jika berbantahan (adu mulut) akan merugikan dan menyebabkan sakit hati.
Akan tetapi, beda halnya dengan bercanda. Dalam kehidupan saat ini kita tak bisa lepas dari bercanda.
Dengan bercanda, justru akan terjalin keakraban. Asalkan tidak keterlaluan. Oleh karena itu, kita pun semestinya mencontoh Rasulullah. Gemar bercanda namun tetap dalam batasan tertentu, tidak berlebihan apalagi sampai menyinggung perasaan orang yang diajak bercanda atau pihak lain.

Bercanda yang dilarang agama ialah bercanda yang keterlaluan atau kelewat batas norma yang ada. Serta dilakukan secara terus terang. Karena, jika kebanyakan bercanda akan menyebabkan banyak tawa dan dikhawatirkan akan lepas kontrol dan justru akan menimbulkan kebencian serta menjatuhkan martabat diri dan kewibawa'an.
Dalam sebuah riwayat 'Abu Hurairah', bahwa para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau bercanda dengan kami", maka Rasulullah bersabda, "Miskipun aku bercanda dengan kalian, sesungguhnya tidaklah aku berkata melainkan kebenaran".
Maka dari itu, sudah selayaknya bagi kita yang gemar bercanda tidak menghilangkan batasan-batasan atau rambu-rambu dalam bercanda. Berkatalah yang benar, meskipun bercanda. Dan jangan pernah menyakiti hati orang lain.

Sabtu, 21 Mei 2011

SENYUM NABI BERSAMA MANTAN ISTRI RIFA’AH

MUHAMMAD SAW adalah seorang Nabi sekaligus Rasul Allah, Beliau menjadi tempat bertanya mengenai berbagai permasalahan hidup bagi orang-orang yang ada disekitar beliau pada waktu itu, baik yang bersinggungan dengan hukum-hukum agama maupun mengenai kemaslahatan rumah tangga. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika setiap saat ada saja yang ingin menjumpai beliau untuk menanyakan berbagai hal. Tidak hanya para lelaki dari golongan sahabat, tetapi justru istri-istri mereka yang sedang risau karena terbentur suatu masalah.
Maka, Rasulullah orang yang pertama kali diajak mereka berkonsultasi. Sebab, sudah pasti beliau akan memberikan solusinya dengan jitu sesuai koridor hukum Agama.

Disamping itu, keramahan Rasulullah SAW dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat membuat mereka tanpa sungkan mengadukan segala permasalahan yang di hadapi kepada beliau. Masalah-masalah yang sangat pribadipun mereka sampaikan. Ini menunjukkan adanya kedekatan yang bernama Rifa’ah Al-Quradhi datang menghadap. Ia hendak menanyakan masalah hukum kepada Rasulullah SAW yang bersangkutan dengan problem yang sedang di hadapinya.

Di hadapan Rasulullah, mantan istri Rifa’ah itu mengeluhkan keadaan dirinya, “Ya Rasulullah, aku telah di cerai oleh Rifa’ah Al-Quradhi dengan talak tiga. Setelah itu, aku menikah lagi dengan Abdurrahman Bin Zabir.

Namun, keadaan fisik dia itu seperti ujung baju (Impoten). Kebetulan pada saat itu di dekat Rasulullah ada sahabat beliau, yakni Abu Bakar dan Ibnu Sa’id ibnul Ash. Posisi Abu Bakar ketika itu persisi di samping beliau. Sedangkan Ibnu Sa’id ibnul Ash duduk di dekat pintu kamar.

Karena masalah hendak di ceritakan mantan istri Rifa’ah merupakan persoalan yang sangat pribadi, Ibnu Sa’id ibnul Ash tahu diri. Ia kemudian berpamitan kepada Rasulullah untuk keluar. Tinggallah kini di dalam rumah beliau Abu Bakar, mantan istri Rifa’ah, dan Rasulullah SAW sendiri.

Saat melihat Abu Bakar masih saja tingggal dan duduk di tempatnya, Ibnu Sa’id ibnul Ash kemudian memanggilnya dengan berkata, “Wahai Abu Bakar .. !?! .. Apakah kamu tidak berperasaan dengan perempuan ini yang telah mengemukakan permasaahannya dengan terbuka kepada Raslulullah . ?!?”.

Begitu mendengar seruan Ibnu Sa’id ibnul Ash kepada Abu Bakar, Rasulullah SAW hanya tersenyum saja. Beliau tidak ikut menyuruh Abu Bakar untuk keluar, beliau meneruskan saja pertenyaannya kepada mantan istri Rifa’ah, ‘Apakah kamu ingin kembali kepada Rifa’ah .. ?!? .. Janganlah kamu kembali kepada Rifa’ah, hingga kamu mencicipi madu Abdurahman. Demikian pula Abdurahman bin Zabir biar mencicipi madumu”.

Demikianlah Rasulullah SAW memberikan jalan keluar kepada mantan istri Rifa’ah. Miskipun disampaikan dengan setengah bercanda, yakni mengatakan hal sebenarnya dengan kata kiasan, bagi mantan istri Rifa’ah, solusi yang diberikan oleh Rasulullah SAW ini menjadi suatu ilmu yang sangat berharga bagi dirinya, bahkan bagi seluruh kaum Muslimin pada umumnya. Sebab, meskipun di sampaikan dengan setengah bercanda, perkataan beliau jelas akan menjadi sumber hukum kedua di dunia ini setelah Al-Qur’anul karim.

Dalam kitab At-Tadzhib, Doktor Daib Al-Bagha mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan kata mencicipi madu dari hadist diatas bentuk kiasan untuk kata persetubuhan, Sebab, lezatnya persetubuhan di serupakan dengan lezatnya mencicipi madu. Dalam hal ini, Rasulullah memberi isyarat bahwa persetubuhan itu dianggap sudah cukup terjadi sedikitnya dengan masuknya kepala Zakar ke lubang Farji.

Hadist Rasulullah SAW di atas selanjutnya dijadikan sumber hukum dan persyaratan diperbolehkannya seorang perempuan yang di cerai talak tiga untuk kembali kepada suaminya yang pertama, namun setelah ia bercerai dengan suami yang kedua.

Jumat, 06 Mei 2011

SENYUM NABI BERSAMA UMMU AIMAN

UMMU Aiman ialah perempuan yang mempunyai kedudukan khusus di hati Rasulullah SAW. Beliau telah menganggapnya sebagaa ibunya sendiri. Oleh karena itu, beliau pernah mengeluarkan sabda-sabdanya tentang kedudukan ummu Aiman di hati beliau.

Diantara sabda-sabda belaiu mengenai Ummu Aiman ialah,
"Dia sisa anggota keluargaku".
"Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku".
"Barang siapa merasa senang menikah perempuan ahli surga, hendajnya menikahi Ummu Aiman".
Lebih dari itu, pada setiap kesempatan, apabila beliau melihat atau sedang berbicara dengannya, beliau selalu memanggilnya dengan panggilan "Wahai ibuku". Beliau selalu siap mendengarkan ceritanya, berlemah lembut, serta bercanda dengannya.

Pernah di perang Hunain, Rasulullah SAW mendengar do'a Ummu Aiman dengan gaya bahasa asing yang keliru, "Semoga Allah memotong kaki kalian". Saat mendengar do'a Ummu Aiman salah, Rasulullah SAW menghampirinya dan mencadainya, "Diamlah wahai Ummu Aiman, karena engkau termasuk orang yang berlidah keluh".

Demikian, memang Rasulullah SAW sering bercanda dengan Ummu Aiman. Meskipun itu di tengah peperangan dengan ringkikan kuda yang ketakuatan dan desingan anak panah yang berseliweran, jika Ummu Aiman mengatakan sesuatu, beliau siap mendengarkannya.
Terkadang pula dengan candaannya Rasulullah SAW melontarkan kata-kata yang sepintas lalu tampak menyalahi atau melecehkan, padahal apa yang beliau katakan memang hal ytang sebenarnya. Bagi orang yang mendengarkannya dengan tanpa dipikir dahulu, pasti ia akan mudah terpancing untuk membantahnya.
Namun setelah dijelaskan maksud perkataan beliau itu, biasanya mereka akan tersipu malu oleh sikap mereka sendiri.

Suatu ketika, Ummu Aiman Al-Habasyiyyah datang kepada Rasulullah SAW sambil berkat, "Ya Rasulullah, suamiku ingin mengundangmu datang ke rumah". Saat melihat kedatangan Ummu Aiman yang sudah dianggap ibunya sendiri, Rasulullah mencandainya, "Siapa suamimu itu ?!? Apakah yang ada putih-putih dimatanya".  Jawab Ummu Aiman, "Tidak, mata suamiku biasa saja. Tidak ada putih-putihnya kedua matanay". Beliau berkata lagi. "Engaku keliru, Kedua mata suamimu itu ada putih-putihnya" Namun, Ummu Aiman tetap mengotot dengan berkata, "Tidak, Ya Rasulullah !?! Tidak ada putih-putihnya pada kedua mata suamiku".

Karena mendengar bantahan tersebut, Rasulullah SAW hanya tersenyum. Selanjutnya beliau berkata, "Setiap mata itu pasti ada putihnya bukan ?!?" Maka sadarlah Ummu Aiman bahwa dirinya baru saja terjebak dalam candaan Rasulullah SAW. Maka ia hanya bisa tersenyum malu.

Dalam versi yang lain diceritakan bahwa perampuan yang datang kepada Rasulullah itu bukanlah Ummu Aiman, melainkan istri salah seorang sahabat beliau. Suatu ketika ada seorang perempuan datang ke majelis yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. dengan tujuan untuk menanyakan suaminya. Ketika melihat perempuan itu datang menghadap, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "siapakah yang kau cari". Perempuan itu menjawab, "Aku mencari suamiku, Ya Rasulullah". Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Apakah suamimu yang di matanya ada putih-putihnya".

Bingung juga perempuan itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Maka, ia segera pulang dan bertemu suaminya di rumah. Dihadapan suaminya, tak henti-hentinya ia memandang wajah suaminya serta mengawasi kdua biji matanya. Melihat tingkah laku istrinya yang agak aneh itu, suaminya pun menjadi heran lalu bertanya, "Apa sebenarnya yang kamu cari dimataku, dengan tingkah lakumu yang agak aneh ini ?!?".
Istrinya menjawab, "Apakah di matamu ada putih-putihnya atau tidak". Saat mendengar jawaban istrinya, suaminya lantas berkata, "AAAhh .. kamu ini memang bodoh, bukankah setiap mata itu ada putih-putihnya".
Barulah perempuan itu sadar akan kekeliruannya dalam mendebat Rasulullah SAW. ia juga menyadari kalau perkataan beliau tersebut hanyalah senda gurau belaka.

Akan halnya dengan Ummu Aiman, ia termasuk perempuan yang cukup menonjol kisahnya dalam sejarah Islam, terutama yang meriwayatkan kehidupan Rasulullah SAW. Ia pernah meriwayatkan lima hadits secara langsung dari Rasulullah SAW. Kelima hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Hanasy bin Abdullah, Ash Shan'ani, dan Abu Yazid Ai-Madani, langsung darinya. Sedangkan mengenai wafatnya Ummu Aiman, Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan, "Ia meninggal lima bulan setelah Rasulullah wafat". Semoga Allah meridhai Ummu Aiman.


SENYUM NABI BERSAMA PEMBANTUNYA

DALAM rumah tangga Rasulullah SAW. terdapat seorang pembantu. Dia bernama Anjasah. Dari mulai tinggal bersama beliau hingga sekarang, tak pernah sedikitpun ia mengeluh mengenai pekerjaan yang di bebenkan kepadanya. Karena beliau begitu adil dan ramahnya dalam menghadapi pembantu-pembantunya, termnasuk kepada Anjasah.
Anjasah merasa betah berada di lingkungan rumah tangga Rasulullah dan senantiasa merasa selalu dalam perlindungan beliau. Sekali tempo Rasulullah SAW juga mengajaknya bercanda, hingga membuat Anjasah merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Dalam mengeluarkan cadaannya, ada saja akal Rasulullah SAW untuk menyenangkan hati orang lain. Tak jarang kata-kata yang keluar dari mulut beliau dapat menimbulkan gelak tawa bagi orang yang mendengarkannya. Seperti beliau menggunakan kata botol sebagai pengganti kata perempuan.
Khusus mengenai candaan Rasulullah SAW. Anjasahmempunyai kesan yang tak terlupakan dari beliau, yaitusaat beliau mengajaknya bercanda menegenai istri-istrinya. Sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat berikut ini.

Anas bin Malik menerangkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW pernah menugasi Anjasah untuk menuntun unta yang akan dinaiki salah seorang istrinya. Saat istri beliau hendk berpergian dengan menaiki unta.
Unta yang sedang dituntun Anjasah itu tiba-tiba berjalan dengan cepat. melihat kejadian itu, Rasulullah SAW lalu berkata, "Hati-hatilah hai Anjasah, berlakulah lemah lembut terhadap botol-botol itu".

Anjasah pun tersenyum simpul mendengar candaan Rasulullah. Ia hafal betul bahwa Rasulullah SAW mengatakan botol-botol terhadap istri-istri beliau hanyalah sebagai wujud pernyataan kasih sayang beliau terhadap mereka.