- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Rabu, 27 April 2011

PERJALANAN SUNAN KALIJAGA MENCARI GURU SEJATI

Di antara para wali yang tersebar di pulau jawa, hanya Kanjeng Sunan Kalijaga (Raden Syahid) yang bisa dikatakan satu-satunya wali yang mengerti akan sela dan kegemaran penduduk pulau jawa dan dia menggunakan pendekatan yang pas yaitu budaya Jawa.
Dia sadar, tidak mungkin bagi Kanjeng Sunan Kalijaga menggunakan budaya lain untuk menyampaikan ajaran sangkan paraning dumadi secara tepat pada penduduk pulau jawa. Karena Kanjeng Sunan Kalijaga sangat yakin, kalau budaya arab tidak cocok diterapkan di Jawa.
Karena mmasyarakat pulau Jawa sudah hidup sekian ratus tahun dengan aneka budaya yang di anut dan di yakininya, seolah budaya yang lebih dulu ada di pulau jawa, seolah sudah mendarah daging pada mereka. Dan amat sulit untuk di alihkan.
Bahkan, setelah Raden Syahid “dilantik” menjadi wali, dia mengganti jubahnya dengan pakaian Jawa memakai blangkon atau udeng. Dan bukan jubah yang di pakai para wali laInnya.

Kanjeng Sunan Kalijaga (Raden Syahid), adalah putra adipati Tuban yaitu Tumenggung Wilatikta dan Dewi Nawangrum. Kadpiaten Tuban sebagaimana Kadipaten yang lain harus tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Nama lain Tumenggung Wilatikta adalah Ario Tejo IV, keturunan Ario Tejo III, II dan I. Arti Tejo I adalah putra Ario Adikoro atau Ronggolawe, salah seorang pendiri Kerajaan Majapahit. Jadi bila ditarik dari silsilah ini, Raden Syahid sebenarnya adalah anak turun pendiri kerajaan Majapahit.

Raden Syahid lahir di Tuban Disaat Majapahit mengalami kemunduran karena kebijakan yang salah kaprah, pajak dan upeti dari masing-masing kadipaten yang harus disetor ke Kerajaan Majapahit sangat besar sehingga membuat miskin rakyat jelata.
Suatu ketika, Tuban dilanda kemarau panjang, rakyat hidup semakin sengsara hingga suatu hari Raden Syahid bertanya ke ayahnya: “Bapa, kenapa rakyat kadipaten Tuban semakin sengsara ini dibuat lebih menderita oleh Majapahit?”. Sang ayah tentu saja diam sambil membenarkan pertanyaan anaknya yang kritis ini.
Raden Syahid yang melihat nasib rakyatnya merana, terpanggil untuk berjuang dengan caranya sendiri. Cara yang khas anak muda yang penuh semangat juang namun belum diakui eksistensinya; menjadi “Maling Cluring”, yaitu pencuri yang baik karena hasil curiannya dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin yang menderita. Tidak hanya mencuri, melainkan juga merampok orang-orang kaya dan kaum bangsawan yang hidupnya berkecukupan.

Suatu ketika, perbuatan mulia namun tidak lazim itu diketahui oleh sang ayah dan sang ayah tanpa ampun mengusir Raden Syahid karena dianggap mencoreng moreng kehormatan keluarga adipati.
Pengusiran tidak hanya dilakukan sekali namun beberapa kali. Saat diusir Raden Syahid kembali melakukan perampokan namun sialnya dia tertangkap pengawal kadipaten hingga sang ayah kehabisan akal sehat. “Syahid anakku, kini sudah waktunya kamu memilih, kau yang suka merampok itu pergi dari wilayah Tuban atau kau harus tewas di tangan anak buahku”.
Raden Syahid tahu dia saat itu harus benar-benar pergi dari wilayah Tuban dan akhirnya, dia pun dengan hati gundah pergi tanpa arah tujuan yang jelas. Suatu hari dalam perjalanannya di hutan Jati Wangi, dia bertemu lelaki tua yang kemudian memperkenalkan dirinya sebagai Sunan Bonang. Sunan Bonang adalah putra dan murid Sunan Ampel yang berkedudukan di Bonang, dekat Tuban.

Raden Syahid yang ingin merampok Sunan Bonang akhirnya harus bertekuk lutut dan Raden Syahid akhirnya berguru pada Sunan Bonang. Oleh Kanjeng Sunan Bonang yang saat itu sudah jadi guru spiritual ini, Raden Syahid diminta duduk diam bersila di pinggir sungai. Posisi duduk diam (meneng) ini di kalangan para yogi dikenal dengan posisi meditasi. Raden Syahid saat itu telah bertekad untuk mengubah orientasi hidupnya secara total seratus delapan puluh derajat. Yang awalnya dia berjuang dalam bentuk fisik, menjadi perjuangan dalam bentuk batin (metafisik). Dia telah meninggalkan syariat masuk ke ruang hakekat untuk mereguk nikmatnya makrifat.
Namun syarat yang diajarkan Sunan Bonang cuma satu. Yaitu duduk, diam (meneng), mengalahkan diri/ego (si aku) dan patuh pada sang guru sejati (kesadaran ruh). Untuk menghidupkan kesadaran guru sejati (ruh) yang sekian lama terkubur dan tertimbun nafsu dan ego ini, Kanjeng Sunan Bonang menguji tekad Raden Syahid dengan menyuruhnya untuk diam di pinggir kali.
Kanjeng Sunan Bonang hanya memerintahkan Raden Syahid berdiam diri saja, tidak diminta untuk dzikir atau ritual apapun. Cukup diam di tempat sambil dan di serahi untuk menjaga “Tongkat” yang di tancap oleh Kanjeng Sunan Bonang tepat di tepi sungai.
Dia tidak diminta memikirkan tentang Tuhan, atau Dzat Yang Adikodrati yang menguasai alam semesta. Tidak, Sunan Bonang hanya meminta agar sang murid untuk patuh akan apa yang di perintahkannya, dengan cara DIAM (MENENG), HENING, PASRAH, SUMARAH, SUMELEH.

Pada dasarnya Raden Syahid merupakan orang yang perpegangan teguh prinsip maupun ucapannya, sekali dia mengucap, pasti akan dilakukan dengan segala kemampuan dan kekuatan yang dimilikinya. Itulah mengapa Raden Syahid tetap tegar duduk di pinggir sungai sendirian, kesanggupan yang sudah di ucapkan, pantang untuk di ikarinya.
Pada awalnya hal ini memang sulit dilakukan, karena orang diam pikirannya pasti akan melayang kemana-mana. Apalagi orang yang mengalaminya pernah melakukan kesalahan yang dianggap suatu kenikmatan pada dirinya, itulah yang dialami Raden Syahid pada saat itu. Namun dengan didasari niat pada dirinya, maka dia sanggup melakukannya. Dalam rentang waktu sekian lama dia berdiam diri di tempat itu, pada akhirnya pengendalian diri pada dirinya dapat ditemukan, akal dan keinginannyapun akhirnya melemas dan akhirnya benar-benar tidak memiliki daya lagi untuk berpikir.
Energi keinginan duniawinya lepas landas dan lenyap. Raden Syahir mengalami suwung (kekosongan) total, fana total karena telah hilang sang diri/ego (si aku) ..
.
“RAGA SUKMA INGSUN MINANGKA RUH JASMANI, RUH JASAD NURANI, INGKANG KAGUNGAN SIFAT LANGGENG WASESA, INGKANG KEDUNUNGAN SUKSMA PURBA WASESA, SUMURUP TANPA GENI, KUMEBUL TANPA BELUK, WANGI TANPA GANDA.
INGSUN SEJATINE RUH KANG PUNGKASAN, NYEKTI NGABDI SANGKING GELAR KITAB, PANCERI URIP SING SEJATI. TEKA SAKING MANEMBAH, LUNGA SAKING MANEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, NAMUNG INGSUN SING ORA TURU, PINANGERAN YEKTI SANGKING TUNTUNAN SING SEJATI”

Demikian gambaran kesadaran ruh Raden Syahid pada saat itu. Berapa lamanya Raden Syahid berdiam diri di pinggir sungai .. !?! .. Tidak ada catatan sejarah yang pasti. Namun dalam salah satu hikayat dipaparkan bahwa sang Kanjeng Sunan bertapa hingga rerumputan menutupi tubuhnya selama 5 (lima) tahun.
Setelah dianggap selesai mengalami penyucian diri dengan bangunnya kesadaran ruh, Kanjeng Sunan Bonang menggembleng muridnya dengan kaweruh ilmu-ilmu agama. Dianjurkan juga oleh Kanjeng Sunan Bonang agar Raden Syahid berguru ke para wali yang sepuh yaitu Kanjeng Sunan Ampel di Surabaya dan Sunan Giri di Gresik.
Raden Syahid yang kemudian disebut denagn Sunan Kalijaga ini menggantikan Syekh Subakir. Sang Kanjeng Sunan Kalijaga begitu gigih berdakwah sampai Semenanjung Malaya hingga ke Thailand. Dan kemudian Kanjeng Sunan Kalijaga (Raden Syahid) juga diberi gelar Syekh Malaya.

Kanjeng Sunan Kalijaga berhasil mematikan diri pada sifat keduniawiannya atau “Mati Sa’jroning Urip”. Seseorang orang yang berhasil dan yang telah mengalami “Mati Sa’jroning Urip” atau orang yang telah berhasil mematikan diri / ego (si aku) hingga mampu menghidupkan diri sejati yang merupakan guru sejati pada dirinya. Sebab tanpa berhasil mematikan diri, manusia hanya hidup di dunia fatamorgana, dunia maya yang penuh dengan kesemuan semata atau dunia kulit kasar. Dia tidak mampu untuk masuk ke dunia isi, dan menyelam di lautan hakikat dan sampai di palung makrifatullah.

Salah satu ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga yang didapat dari guru spiritualnya, yaitu Kanjeng Sunan Bonang, adalah ajaran hakikat shalat sebagaimana yang ada di dalam “Suluk Wujil”.

“UTAMANING SARIRA PUNIKI, ANGRAWUHANA JATINING SALAT, SEMBAH LAWAN PUJINE, JATINING SALAT IKU, DUDU NGISA TUWIN MAGERIB, SEMBAH ARANEKA, WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT, PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAM DAIM, INGARAN TATA KRAMA.

(Unggulnya diri itu mengetahui HAKIKAT SALAT, sembah dan pujian. Salat yang sesungguhnya bukanlah mengerjakan salat Isya atau maghrib. Itu namanya sembahyang. Apabila disebut salat, maka itu hanya hiasan dari SALAT DAIM, hanya tata krama).

Di sini, kita tahu bahwa salat sejati adalah tidak hanya mengerjakan sembah raga atau tataran syariat mengerjakan sholat lima waktu. Salat sejati adalah SALAT DAIM, yaitu bersatunya semua indera dan tubuh kita untuk selalu memuji-Nya dengan kalimat penyaksian bahwa yang suci di dunia ini hanya Tuhan: HU - ALLAH, DIA ALLAH. Dialah yang memiliki kehidupan ini, tidak ada kekuatan manapun yang bias menyainginya.
HU saat kita menarik nafas dan ALLAH saat kita mengeluarkan nafas. Sebagaimana yang ada di dalam “Suluk Wujil” :

PANGABEKTINE INGKANG UTAMI, NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA, PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU, SASOLAHE RAGANIREKI, TAN SIMPANG DADI SEMBAH, TEKENG WULUNIPUN, TINJA TURAS DADI SEMBAH, IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN.

(Berbakti yang utama tidak mengenal waktu. Semua tingkah lakunya itulah menyembah. Diam, bicara, dan semua gerakan tubuh merupakan kegiatan menyembah. Wudhu, berak dan kencing pun juga kegiatan menyembah. Itulah niat sejati. Pujian yang tidak pernah berakhir)

Jadi hakikat yang disebut Sholat Daim nafas kehidupan yang telah manunggaling kawulo lan gusti, yang manifestasinya adalah semua tingkah laku dan perilaku manusia yang diniatkan untuk menyembah-Nya. Selalu awas, eling dan waspada bahwa apapun yang kita pikirkan, apapun yang kita kehendaki, apapun yang kita lakukan ini adalah bentuk yang dintuntun oleh : ..

SANG GURU SEJATI (HATI NURANI / KALBU), SANG GURU SEJATI SELALU MENUNJUKAN DAN MENYUARAKAN KESADARAN HOLISTIK DALAM KEBENARAN YANG SESUCI, DAN MENYATAKAN, BAHWA DIRI KITA INI ADALAH CERMIN PADA DIRINYA, YANG ADA PADA DIRI KITA INI JUGA KARENA ADANYA DIA, WALAUPUN KITA TIDAK ADA, TAPI DIA TETAP ADA DAN TAK AKAN LENGGANG DENGAN BATAS USIA YANG KITA MILIKI.

Sholat daim ini juga disebut dalam SULUK LING LUNG karya Kanjeng Sunan Kalijaga :

SALAT DAIM TAN KALAWAN, MET TOYA WULU KADASI, SALAT BATIN SEBENERE, MANGAN TURU SAHWAT NGISING.

(Jadi sholat daim itu tanpa menggunakan syariat wudhu untuk menghilangkan hadats atau kotoran. Sebab kotoran yang sebenarnya tidak hanya kotoran badan melainkan kotoran batin. Salat daim boleh dilakukan saat apapun, misalnya makan, tidur, bersenggama maupun saat membuang kotoran).

Ajaran makrifat lain Sunan Kalijaga adalah IBADAH HAJI. Tertera dalam Suluk Linglung suatu ketika Kanjeng Sunan Kalijaga bertekad pergi ke Mekkah untuk melaksanakan ibadah haji. Di tengah perjalanan dia dihentikan oleh Nabi Khidir. Sunan dinasehati agar tidak pergi sebelum tahu hakikat ibadah haji agar tidak tersesat dan tidak mendapatkan apa-apa selain capek. Mekah yang ada di Saudi Arabia itu hanya simbol dan MEKAH YANG SEJATI ADA DI DALAM DIRI. Dalam suluk wujil disebutkan sebagai berikut:

NORANA WERUH ING MEKAH IKI, ALIT MILA TEKA ING AWAYAH, MANG TEKAENG PRANE YEN ANA SANGUNIPUN, TEKENG MEKAH TUR DADI WALI, SANGUNIPUN ALARANG, DAHAT DENING EWUH, DUDU SREPI DUDU DINAR, SANGUNIPUN KANG SURA LEGAWENG PATI, SABAR LILA ING DUNYA.
MESJID ING MEKAH TULYA NGIDERI, KABATOLLAH PINIKANENG TENGAH, GUMANTUNG TAN PACACANTHEL, DINULU SAKING LUHUR, LANGIT KATON ING NGANDHAP IKI, DINULU SAKING NGANDHAP, BUMI ANENG LUHUR, TINON KULON KATON WETAN, TINON WETAN KATON KULON IKU SINGGIH TINGALNYA AWELASAN.

(Tidak tahu Mekah yang sesugguhnya. Sejak muda hingga tua, seseorang tidak akan mencapai tujuannya. Saat ada orang yang membawa bekal sampai di Mekah dan menjadi wali, maka sungguh mahal bekalnya dan sulit dicapai. Padahal, bekal sesungguhnya bukan uang melainkan KESABARAN DAN KESANGGUPAN UNTUK MATI. SESABARAN DAN KERELAAN HIDUP DI DUNIA. Masjid di Mekah itu melingkar dengan Kabah berada di tengahnya. Bergantung tanpa pengait, maka dilihat dari atas tampak langit di bawah, dilihat dari bawah tampak bumi di atas. Melihat yang barat terlihat timur dan sebalinya. Itu pengelihatan yang terbalik).

Maksudnya, bahwa ibadah haji yang hakiki adalah bukanlah pergi ke Mekah saja. Namun lebih mendalam dari penghayatan yang seperti itu. Ibadah yang sejati adalah pergi ke KIBLAT YANG ADA DI DALAM DIRI SEJATI. Yang tidak bisa terlaksana dengan bekal harta, benda, kedudukan, tahta apapun juga. Namun sebaliknya, harus meletakkan semua itu untuk kemudian meneng, diam, dan mematikan seluruh ego/aku dan berkeliling ke kiblat AKU SEJATI. Inilah Mekah yang metafisik dan batiniah. Memang pemahaman ini seperti terbalik, JAGAD WALIKAN. Sebab apa yang selama ini kita anggap sebagai : ..

KEBENARAN DAN KEBAIKAN MASIHLAH PEMAHAMAN YANG DANGKAL. APA YANG KITA ANGGAP TERBAIK, TERTINGGI SEPERTI LANGIT DAN PALING BERHARGA DI DUNIA TERNYATA TIDAK ADA APA-APANYA DAN SANGAT RENDAH NILAINYA.

Apa bekal agar sukses menempuh ibadah haji makrifat untuk menziarahi diri sejati? Bekalnya adalah kesabaran dan keikhlasan. Sabar berjuang dan memiliki iman yang teguh dalam memilih jalan yang barangkali dianggap orang lain sebagai jalan yang sesat. Ibadah haji metafisik ini akan mengajarkan kepada kita bahwa episentrum atau pusat spiritual manusia adalah BERTAWAF. Berkeliling ke RUMAH TUHAN, berkeliling bahkan masuk ke AKU SEJATI dengan kondisi yang paling suci dan bersimpuh di KAKI-NYA YANG MULIA. Tujuan haji terakhir adalah untuk mencapai INSAN KAMIL, yaitu manusia sempurna yang merupakan kaca benggala kesempurnaan-Nya.
Sunan Kalijaga adalah manusia yang telah mencapai tahap perjalanan spiritual tertinggi yang juga telah didaki oleh Syekh Siti Jenar. Berbeda dengan Syekh Siti Jenar yang berjuang di tengah rakyat jelata, Sunan Kalijaga karena dilahirkan dari kerabat bangsawan maka dia berjuang di dekat wilayah kekuasaan. Di bidang politik, jasanya terlihat saat akan mendirikan kerajaan Demak, Pajang dan Mataram. Sunan Kalijaga berperan menasehati Raden Patah (penguasa Demak) agar tidak menyerang Brawijaya V (ayahnya) karena beliau tidak pernah berlawanan dengan ajaran akidah. Sunan Kalijaga juga mendukung Jaka Tingkir menjadi Adipati Pajang dan menyarankan agar ibukota dipindah dari Demak ke Pajang (karena Demak dianggap telah kehilangan kultur Jawa.

Pajang yang terletak di pedalaman cocok untuk memahami Islam secara lebih mendalam dengan jalur Tasawuf. Sementara kota pelabuhan jalurnya syariat. Jasa lain Kanjeng Sunan Kalijaga adalah mendorong Jaka Tingkir (Pajang) agar memenuhi janjinya memberikan tanah Mataram kepada Pemanahan serta menasehati anak Pemanahan, yaitu Panembahan Senopati agar tidak hanya mengandalkan kekuatan batin melalui tapa brata, tapi juga menggalang kekuatan fisik dengan membangun tembok istana dan menggalang dukungan dari wilayah sekeliling. Bahkan Sunan Kalijaga juga mewariskan pada Panembahan Senopati baju rompi Antakusuma atau Kyai Gondhil yang bila dipakai akan kebal senjata apapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar