- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Sabtu, 16 Mei 2020

WEDANG KOPI

Tradisi meminum suguhan wedang (kopi atau teh), sudah menjadi ciri khas masyarakat daerah khususnya jenis suguhan wedang kopi.
Namun sedikit yang tahu apa sebenarnya makna yang terkandung dari tradisi turun temurun itu.


Disekitar kita, khususnya dikalangan masyarakat yang kental dengan logat bahasa jawa. Banyak sekali uraian atau wedaran tentang filosofi kopi itu sendiri.
Dan wejangan atau nasehat yang terkandung dalam filosofi kopi, itu semua pasti memiliki dasar serta kebenaran menurut prihal pemikiran setiap yang menguraikannya.

Saat ini, saya mencoba mengurai secara gamblang apa sebenarnya yang terkandung dari filosofi wedang kopi dan yang pasti uraian dari saya belum tentu lengkap, karena ada batas kemampuan dan juga pasti memiliki banyak kekurangan.

Inilah alasannya, mengapa setiap hadir saya selalu menawarkan atau meminta suguhan kopi.
Disamping menjadi ciri khas suguhan untuk menjalin persahabatan dari pertemanan dan juga sebagai media basa basi pelengkap keakraban
Namun dibalik itu semua, ada maksud tersembunyi yang selama ini tersimpan.

WEDANG KOPI
aWEt dadi kaDANG ben KObong PIkirane
(Selamanya jadi saudara biar terbakar/penyemangat/terbuka pikirannya)
WEjangan pepaDANG ben KObong PIkirane
(Nasehat yang benar biar terbakar/penyemangat/terbuka pikirannya)

Dari uraian makna pertama menyatakan, kalau persaudaraan itu sesungguhnya sangat penting bagi kita sebagai insan yang sudah dilengkapi segalanya melebihi makhluk lain yang juga ciptaanNya.
Dengan membina persaudaraan tanpa membedakan status dan kedudukan, maka apapun yang dihasilkan pasti akan terlihat indah.
Dalam membina persaudaraan, yang pasti akan membakar daya pikir kita, atau bisa diartikan sebagai pemetik pancaran daya pikir untuk melakukan hal terbaik demi membina persaudaraan agar tetap awet (langgeng) selamanya.

Seperti suguhan wedang kopi, bisa dinikmati oleh siapapun tanpa ada segi pembatas. Baik itu dari kalangan bawah, menengah maupun dari kalangan atas. Baik itu dari kaum hawa maupun kaum adam, kesemuanya bisa menikmatinya dengan segala rasa yang disuguhkan.

Demikian pula dalam menjalin bentuk ikatan persaudaraan, tidak perlu memakai strategi dan memandang dari mana dan siapa?
Bila sudah dapat berbaur menjadi satu. Seyogyannya dapat menikmatinya dalam kebersamaan.
Dengan demikian, maka persaudaraan yang dibina akan selalu awet dan bisa  berjalan seiring seterusnya.

Dari uraian makna kedua. Dalam menjalin ikatan tali silahturahim, saling berkunjung dan mengunjungi sudah menjadi ciri khas masyarakat daerah (jawa).
Dalam berkunjung, yang pasti ada bahan masukan yang bermanfaat dan juga menjadi bahan pembelajaran (nasehat diri).
Baik langsung melalui lisan maupun simbol dari situasi dan kondisi yang ada, itu semua merupakan bentuk nasehat yang sepantasnya disimak dan direnungkan.

Karena posisi nasehat sendiri tidak harus melalui bahan pembelajaran yang ditulis atau dibukukan.
Namun bisa secara langsung melihat situasi dan kondisi yang berada di hadapan kita.

"NGANGSU KAWERUH KUDU E NANG SING URIP DUDU NANG SING MATI"
Menggali pengetahuan (nasehat) seharusnya pada yang hidup (silahturahim) bukan pada yang mati (terfokus hanya pada 1 pelajaran/kitab).

Nasehat yang benar adalah demikian, karena pelajaran yang paling banyak atau guru yang terbaik adalah pengalaman.
Dengan mendapatkan pengalaman, berarti kita telah melakukan interaksi dengan banyak insan.
Dari pengalaman inilah, kita akan bisa menentukan langkah ke depan yang lebih baik serta bermanfaat. Secara tidak langsung pemahaman dan pemikiran kita bisa menjangkau lebih luas dari sebelumnya.

Saat menikmati wedang kopi yang pasti ada rasa sedikit pait (pahit) nya. Dengan adanya rasa pahit itulah kita semakin bisa merasakan kenikmatan tersendiri dari suguhan kopi yang kira rasakan.

PAIT
PAtrapan minongko pITutur
(Perilaku memiliki kesadaran merupakan petuah/nasehat).

Bila kita menyadari akan gunanya persaudaraan, maka kita semakin bisa mengambil hikmah dari jalinan ikatan tersebut. Tanpa harus memandang keburukan (hitam) dan kebaikan (putih) pada masing-masing insan.
Yang terpenting kesemuanya bisa disatukan ke dalam rasa (bening) maka semua dapat berbaur tanpa bisa dilacak atau diketahui keberadaanya.

Seperti wujud wedang kopi yang mengandung rangkaian dari 3 unsur yang berlainan.
Gula (putih) ibarat kebaikan yang ada
Kopi (hitam) ibarat keburukan yang ada
Dan air (bening) ibarat rasa pemersatu yang dimiliki

Ketiga 3 unsur tersebut tidak pernah saling menonjolkan diri, justru menyamarkan akan kaidah peran yang ada.
Walau terlihat hitam (buruk) namun masih terasa manis/gula (baik) dan bisa menyatu dengan persatuan rasa (air/bening) yang ada.

Sehitam hitamnya wujud kopi (keburukan) namun masih terasa manisnya (kebaikan). Hal Ini termasuk mengurai akan kepribadian perilaku pada masing-masing insan.
Karena apa yang di pandang buruk, belum tentu menghasilkan hal yang buruk.
Demikian sebaliknya, apa yang di pandang baik, belum tentu menghasilkan hal yang baik.

Kesemuanya tidak pernah lepas dari perilaku yang memang menjadi kodrat pada masing-masing insan, dan kesemuanya tak akan ketara wujudnya asalkan keduanya masih tetap memiliki rasa.
Karena dalam pelajaran hidup, pasti pernah merasakan apa itu kepahitan (sengsara) dan juga merasakan apa itu rasa manis (mewah).
Namun, walaupun rasa pahit dan manis sudah pernah dirasakan.
Selagi kesemuanya masih bisa dikembalikan ke dalam rasa, maka semua itu merupakan cambuk perenungan yang paling berharga dan bisa menghantarkan langkah lebih baik dari yang kemarin.

Makanya selagi menikmati wedang kopi, paling nikmat seharusnya menunggu agak hangat, agar perpaduan antara yang hitam, putih dan bening bisa berbaur seutuhnya tanpa sekat, dengan demikian wedang kopi yang disuguhkan bisa dinikmati dan dirasakan dengan sensasi tersendiri.
Dari sini bisa disimpulkan, agar kita bisa bersabar dengan situasi apapun yang menerpa, karena hal itu membutuhkan perenungan serta rasa mawas diri.
Dengan melakukan perenungan dalam kesabaran, kita juga bisa mengambil hikmah pelajaran yang lebih akurat dalam membakar pikiran tanpa grusah grusuh (tergesa-gesa).

Inilah sekelumit makna yang terkandung dari ungkapan WEDANG KOPI.

Bermandi kata
Berselimutkan makna
Beralas rasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar