- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Sabtu, 21 Mei 2011

SENYUM NABI BERSAMA MANTAN ISTRI RIFA’AH

MUHAMMAD SAW adalah seorang Nabi sekaligus Rasul Allah, Beliau menjadi tempat bertanya mengenai berbagai permasalahan hidup bagi orang-orang yang ada disekitar beliau pada waktu itu, baik yang bersinggungan dengan hukum-hukum agama maupun mengenai kemaslahatan rumah tangga. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika setiap saat ada saja yang ingin menjumpai beliau untuk menanyakan berbagai hal. Tidak hanya para lelaki dari golongan sahabat, tetapi justru istri-istri mereka yang sedang risau karena terbentur suatu masalah.
Maka, Rasulullah orang yang pertama kali diajak mereka berkonsultasi. Sebab, sudah pasti beliau akan memberikan solusinya dengan jitu sesuai koridor hukum Agama.

Disamping itu, keramahan Rasulullah SAW dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat membuat mereka tanpa sungkan mengadukan segala permasalahan yang di hadapi kepada beliau. Masalah-masalah yang sangat pribadipun mereka sampaikan. Ini menunjukkan adanya kedekatan yang bernama Rifa’ah Al-Quradhi datang menghadap. Ia hendak menanyakan masalah hukum kepada Rasulullah SAW yang bersangkutan dengan problem yang sedang di hadapinya.

Di hadapan Rasulullah, mantan istri Rifa’ah itu mengeluhkan keadaan dirinya, “Ya Rasulullah, aku telah di cerai oleh Rifa’ah Al-Quradhi dengan talak tiga. Setelah itu, aku menikah lagi dengan Abdurrahman Bin Zabir.

Namun, keadaan fisik dia itu seperti ujung baju (Impoten). Kebetulan pada saat itu di dekat Rasulullah ada sahabat beliau, yakni Abu Bakar dan Ibnu Sa’id ibnul Ash. Posisi Abu Bakar ketika itu persisi di samping beliau. Sedangkan Ibnu Sa’id ibnul Ash duduk di dekat pintu kamar.

Karena masalah hendak di ceritakan mantan istri Rifa’ah merupakan persoalan yang sangat pribadi, Ibnu Sa’id ibnul Ash tahu diri. Ia kemudian berpamitan kepada Rasulullah untuk keluar. Tinggallah kini di dalam rumah beliau Abu Bakar, mantan istri Rifa’ah, dan Rasulullah SAW sendiri.

Saat melihat Abu Bakar masih saja tingggal dan duduk di tempatnya, Ibnu Sa’id ibnul Ash kemudian memanggilnya dengan berkata, “Wahai Abu Bakar .. !?! .. Apakah kamu tidak berperasaan dengan perempuan ini yang telah mengemukakan permasaahannya dengan terbuka kepada Raslulullah . ?!?”.

Begitu mendengar seruan Ibnu Sa’id ibnul Ash kepada Abu Bakar, Rasulullah SAW hanya tersenyum saja. Beliau tidak ikut menyuruh Abu Bakar untuk keluar, beliau meneruskan saja pertenyaannya kepada mantan istri Rifa’ah, ‘Apakah kamu ingin kembali kepada Rifa’ah .. ?!? .. Janganlah kamu kembali kepada Rifa’ah, hingga kamu mencicipi madu Abdurahman. Demikian pula Abdurahman bin Zabir biar mencicipi madumu”.

Demikianlah Rasulullah SAW memberikan jalan keluar kepada mantan istri Rifa’ah. Miskipun disampaikan dengan setengah bercanda, yakni mengatakan hal sebenarnya dengan kata kiasan, bagi mantan istri Rifa’ah, solusi yang diberikan oleh Rasulullah SAW ini menjadi suatu ilmu yang sangat berharga bagi dirinya, bahkan bagi seluruh kaum Muslimin pada umumnya. Sebab, meskipun di sampaikan dengan setengah bercanda, perkataan beliau jelas akan menjadi sumber hukum kedua di dunia ini setelah Al-Qur’anul karim.

Dalam kitab At-Tadzhib, Doktor Daib Al-Bagha mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan kata mencicipi madu dari hadist diatas bentuk kiasan untuk kata persetubuhan, Sebab, lezatnya persetubuhan di serupakan dengan lezatnya mencicipi madu. Dalam hal ini, Rasulullah memberi isyarat bahwa persetubuhan itu dianggap sudah cukup terjadi sedikitnya dengan masuknya kepala Zakar ke lubang Farji.

Hadist Rasulullah SAW di atas selanjutnya dijadikan sumber hukum dan persyaratan diperbolehkannya seorang perempuan yang di cerai talak tiga untuk kembali kepada suaminya yang pertama, namun setelah ia bercerai dengan suami yang kedua.

Jumat, 06 Mei 2011

SENYUM NABI BERSAMA UMMU AIMAN

UMMU Aiman ialah perempuan yang mempunyai kedudukan khusus di hati Rasulullah SAW. Beliau telah menganggapnya sebagaa ibunya sendiri. Oleh karena itu, beliau pernah mengeluarkan sabda-sabdanya tentang kedudukan ummu Aiman di hati beliau.

Diantara sabda-sabda belaiu mengenai Ummu Aiman ialah,
"Dia sisa anggota keluargaku".
"Ummu Aiman adalah ibuku setelah ibuku".
"Barang siapa merasa senang menikah perempuan ahli surga, hendajnya menikahi Ummu Aiman".
Lebih dari itu, pada setiap kesempatan, apabila beliau melihat atau sedang berbicara dengannya, beliau selalu memanggilnya dengan panggilan "Wahai ibuku". Beliau selalu siap mendengarkan ceritanya, berlemah lembut, serta bercanda dengannya.

Pernah di perang Hunain, Rasulullah SAW mendengar do'a Ummu Aiman dengan gaya bahasa asing yang keliru, "Semoga Allah memotong kaki kalian". Saat mendengar do'a Ummu Aiman salah, Rasulullah SAW menghampirinya dan mencadainya, "Diamlah wahai Ummu Aiman, karena engkau termasuk orang yang berlidah keluh".

Demikian, memang Rasulullah SAW sering bercanda dengan Ummu Aiman. Meskipun itu di tengah peperangan dengan ringkikan kuda yang ketakuatan dan desingan anak panah yang berseliweran, jika Ummu Aiman mengatakan sesuatu, beliau siap mendengarkannya.
Terkadang pula dengan candaannya Rasulullah SAW melontarkan kata-kata yang sepintas lalu tampak menyalahi atau melecehkan, padahal apa yang beliau katakan memang hal ytang sebenarnya. Bagi orang yang mendengarkannya dengan tanpa dipikir dahulu, pasti ia akan mudah terpancing untuk membantahnya.
Namun setelah dijelaskan maksud perkataan beliau itu, biasanya mereka akan tersipu malu oleh sikap mereka sendiri.

Suatu ketika, Ummu Aiman Al-Habasyiyyah datang kepada Rasulullah SAW sambil berkat, "Ya Rasulullah, suamiku ingin mengundangmu datang ke rumah". Saat melihat kedatangan Ummu Aiman yang sudah dianggap ibunya sendiri, Rasulullah mencandainya, "Siapa suamimu itu ?!? Apakah yang ada putih-putih dimatanya".  Jawab Ummu Aiman, "Tidak, mata suamiku biasa saja. Tidak ada putih-putihnya kedua matanay". Beliau berkata lagi. "Engaku keliru, Kedua mata suamimu itu ada putih-putihnya" Namun, Ummu Aiman tetap mengotot dengan berkata, "Tidak, Ya Rasulullah !?! Tidak ada putih-putihnya pada kedua mata suamiku".

Karena mendengar bantahan tersebut, Rasulullah SAW hanya tersenyum. Selanjutnya beliau berkata, "Setiap mata itu pasti ada putihnya bukan ?!?" Maka sadarlah Ummu Aiman bahwa dirinya baru saja terjebak dalam candaan Rasulullah SAW. Maka ia hanya bisa tersenyum malu.

Dalam versi yang lain diceritakan bahwa perampuan yang datang kepada Rasulullah itu bukanlah Ummu Aiman, melainkan istri salah seorang sahabat beliau. Suatu ketika ada seorang perempuan datang ke majelis yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. dengan tujuan untuk menanyakan suaminya. Ketika melihat perempuan itu datang menghadap, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, "siapakah yang kau cari". Perempuan itu menjawab, "Aku mencari suamiku, Ya Rasulullah". Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Apakah suamimu yang di matanya ada putih-putihnya".

Bingung juga perempuan itu mendengar perkataan Rasulullah SAW. Maka, ia segera pulang dan bertemu suaminya di rumah. Dihadapan suaminya, tak henti-hentinya ia memandang wajah suaminya serta mengawasi kdua biji matanya. Melihat tingkah laku istrinya yang agak aneh itu, suaminya pun menjadi heran lalu bertanya, "Apa sebenarnya yang kamu cari dimataku, dengan tingkah lakumu yang agak aneh ini ?!?".
Istrinya menjawab, "Apakah di matamu ada putih-putihnya atau tidak". Saat mendengar jawaban istrinya, suaminya lantas berkata, "AAAhh .. kamu ini memang bodoh, bukankah setiap mata itu ada putih-putihnya".
Barulah perempuan itu sadar akan kekeliruannya dalam mendebat Rasulullah SAW. ia juga menyadari kalau perkataan beliau tersebut hanyalah senda gurau belaka.

Akan halnya dengan Ummu Aiman, ia termasuk perempuan yang cukup menonjol kisahnya dalam sejarah Islam, terutama yang meriwayatkan kehidupan Rasulullah SAW. Ia pernah meriwayatkan lima hadits secara langsung dari Rasulullah SAW. Kelima hadits tersebut diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Hanasy bin Abdullah, Ash Shan'ani, dan Abu Yazid Ai-Madani, langsung darinya. Sedangkan mengenai wafatnya Ummu Aiman, Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan, "Ia meninggal lima bulan setelah Rasulullah wafat". Semoga Allah meridhai Ummu Aiman.


SENYUM NABI BERSAMA PEMBANTUNYA

DALAM rumah tangga Rasulullah SAW. terdapat seorang pembantu. Dia bernama Anjasah. Dari mulai tinggal bersama beliau hingga sekarang, tak pernah sedikitpun ia mengeluh mengenai pekerjaan yang di bebenkan kepadanya. Karena beliau begitu adil dan ramahnya dalam menghadapi pembantu-pembantunya, termnasuk kepada Anjasah.
Anjasah merasa betah berada di lingkungan rumah tangga Rasulullah dan senantiasa merasa selalu dalam perlindungan beliau. Sekali tempo Rasulullah SAW juga mengajaknya bercanda, hingga membuat Anjasah merasa dihargai sebagai manusia seutuhnya.

Dalam mengeluarkan cadaannya, ada saja akal Rasulullah SAW untuk menyenangkan hati orang lain. Tak jarang kata-kata yang keluar dari mulut beliau dapat menimbulkan gelak tawa bagi orang yang mendengarkannya. Seperti beliau menggunakan kata botol sebagai pengganti kata perempuan.
Khusus mengenai candaan Rasulullah SAW. Anjasahmempunyai kesan yang tak terlupakan dari beliau, yaitusaat beliau mengajaknya bercanda menegenai istri-istrinya. Sebagaimana yang diterangkan dalam riwayat berikut ini.

Anas bin Malik menerangkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW pernah menugasi Anjasah untuk menuntun unta yang akan dinaiki salah seorang istrinya. Saat istri beliau hendk berpergian dengan menaiki unta.
Unta yang sedang dituntun Anjasah itu tiba-tiba berjalan dengan cepat. melihat kejadian itu, Rasulullah SAW lalu berkata, "Hati-hatilah hai Anjasah, berlakulah lemah lembut terhadap botol-botol itu".

Anjasah pun tersenyum simpul mendengar candaan Rasulullah. Ia hafal betul bahwa Rasulullah SAW mengatakan botol-botol terhadap istri-istri beliau hanyalah sebagai wujud pernyataan kasih sayang beliau terhadap mereka.

Rabu, 27 April 2011

PERJALANAN SUNAN KALIJAGA MENCARI GURU SEJATI

Di antara para wali yang tersebar di pulau jawa, hanya Kanjeng Sunan Kalijaga (Raden Syahid) yang bisa dikatakan satu-satunya wali yang mengerti akan sela dan kegemaran penduduk pulau jawa dan dia menggunakan pendekatan yang pas yaitu budaya Jawa.

Sabtu, 09 April 2011

WEJANGAN NABI KHIDDIR PADA SUNAN KALIJAGA

Banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman hidup, baik itu pengalaman hidup pribadi maupun pengalaman hidup dari orang lain. Pengalaman hidup orang lain itu bisa juga disebut sebagai "Kaca Benggala" yang bisa menjadi bahan pembelajaran bagi insan.

Rabu, 09 Maret 2011

S U L U K

Suluk sebenarnya hampir sama dengann thari. Keduanya memiliki arti kata "cari" atau "jalan", dalam istilah sufi cara buat jalan mendekati diri pada tuhan dan untuk memperoleh makrifat.
Tetapi pengertian suluk itu lama kelamaan berubah dan pada akhirnya di tujukan kepada semacam latihan, yang di lakukan dalam jangka waktu tertentu untuk memperoleh keadaan mengenai ahwal dan maqamat dari orang yang melakukan tariqat itu.
Kita ketahui bahwa tarikat itu tujuannya adalah mempelajari kesalahan-kesalahan pribadi (intropeksi), baik dalam melakukan amal ibadah atau dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat, dan memperbaikinya.
Pekerjaan ini di lakukan seorang syaikh atau mursyid yang pengetahuannya dan pengalamannya jauh lebih tinggi dari murid yang di binanya. Seorang murid kemudian dibawa kepada perbaikan-perbaikan yang dapat menyempurnakan ke Islaman nya dan memberikan dia jalan demi untuk kebahagiaan dalam menempuh jalan kepada Tuhan-Nya.
Oleh karena kesalahan murid dan berlain-lainan itu tidak sama, maka perbaikan-perbaikan yang dilakukan ahli tariqat pun bermacam-macam adanya. Maka meskipun tujuannya semuanya satu, suluk untuk mencapai tujuan itu berlainan, tergantung kebutuhan perbaikan yang akan dibasuh (dibersihkan) oleh kepentingan itu. Dan sesuai dengan kesalahan dilakukan oleh sang murid.
Adapun suluk atau jalan yang dilalui oleh para sufi dapat dilakukan melalui beberapa cara: :
  1. IBADAH. : Yaitu aturan yang di tetapkan untuk mengabdi pada-Nya, agar setiap insan  bisa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segalal arangan-Nya. Dalam suluk, Ibadah itu merupakan penempuhan jalan untuk membenahi aturan diri pribadi atau semacam aturan mengenai perbaikan syariat yang sudah menjadi hukum. Dalam pembenahan dan perbaikan diri ini sebenarnya merupakan ritual kehidupan muslim sehari-hari. Seperti wudhu', shalat, zikir, dan tadarus. Agar Umat Muslim tekun mempelajari, menyimak dan melakukannya.  Agar semua perbaikan dan pembenahan diri melalui  ibadah yang di lakukan itu menjadi lebih sempurna. Meskipun demikian, menurut para sufi petunjuk yang diperoleh dalam amal yang demikian itu tidaklah sama, ada lekas mencapainya dan ada yang sampai bertahun-tahun perbuatannya dan ihwal-nya dalam beribadah itu belum berubah. Yang berkepentingan belum dapat menangkap hikmah-hikmah dan kegemaran dalam beribadah lahir itu.
  2. RIYADHA. Yaitu latihan diri atau mencari jati diri melalui bertapa (medhitasi), mengurangi makan, minum, tidur, berkata, dan sebagainya. Yang di anggap perlu menurut musysidnya. Riyadhah meliputi segala yang sekiranya dapat mengarah sang murid menuju penyucian diri dan mengenal nilai-nilai luhur yang mesti ditegakkan oleh seorang sufi. Termasuk dalam kategori samat (berdiam diri menahan hawa nafsu), penderitaan (pergi ke hutan, bukit, gunung atau pergi menempuh jarak yang sangat jauh), tariqul hikmah wa badhlu-l-jah (latihan yang di berikan agar sang murid mengenal etika sosial/muamalah).
Jadi dengan demikian, suluk bagi seorang sufi bertujuan antara lain untuk membawa murid kepada tingkatan atau maqam tertentu.

Senin, 07 Maret 2011

PENGENALAN AMALAN DZAT MENURUT TASAWUF JAWA

Ini adalah isi wirid yang menjadi bekal bagi murad, guru atupun pembimbing. Yang mengajarkan wawasan untuk melengkapi perjalanan yang sesuai dengan apa yang di perintahkan-Nya.