- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Rabu, 09 Februari 2011

AKSARA JAWA

Dahulu kala, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka. Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa yang bernama Dora dan Sembada. Kedua punggawa itu sangat setia pada Ajisaka.
Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan pada Sembada, tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali pada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.

Pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan. Rajanya adalah Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan pada Sang Prabu. Tanpa sepengetahuan Sang Prabu, potongan jari yang masuk dalam masakan itupun dimakannya, dan Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, yang selama ini belum pernah dirasakannya, lalu Sang Prabu Dewatacengkar mengutus Sang Patih untuk menanyai Ki Juru Masak.

Dengan terus terang, Sang Juru menceritakan sebenarnya daging apa yang sudah di makan oleh Sang Prabu Dewatacengkar, Setelah mengetahui yang disantap tadi adalah daging manusia yang rasanya melebihi segala daging yang pernah Sang Prabu makan, maka sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk menjadi santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan berubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri. Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan pada rajanya.

Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. Ajisaka heran melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap Sang Patih Rekyana dan menyatakan kesanggupannya menjadi santapan Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap oleh Sang Prabu. Namun tekad Ajisaka sudah bulat, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu.

Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda mau menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya. Ajisaka mengatakan, ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalkan dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya.

Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut Selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.

Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus Dora pergi kembali ke Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di Pulau Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah Ajisaka ketika meninggalkan Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.

Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu.


»        Ha Na Ca Ra Ka = yang berarti Ana utusan (ada utusan).
Ada "utusan" yakni utusan hidup, Berbekalan Ruh yang berikan oleh Sang Pencipta pada seluruh maklum ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Dalam hal ini adalah manusia. Sang Pencipta meniupkan kehidupan (Nyawa) pada diri makluk ciptaan-Nya. Dengan demikian, barulah nafas kehidupan dapat dirasakan oleh seluruh makluk yang ada di muka bumi ini. Dengan nafas yang di berikan oleh-Nya, Insan berkewajiban untuk menyatukan jiwa dengan jasad mereka. Agar bias melangkah dijalan-Nya, sesuai dengan syariat yang di tetapkan oleh Dia Sang Pemberi Hidup. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja.
Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia (sebagai ciptaan).

»        Da Ta Sa Wa La = Padha kekerengan (saling berselisih pendapat).
Segala kemampuan sudah diberikan oleh Allah swt kepada manusia, dan manusia sendir harus bias melaksanakan apa yang diperintah dan menjauhi segala apa yang dilarang. Setelah manusia diciptakan sampai dengan Da-Ta "saatnya (dipanggil)". Mereka tidak boleh Sa-Wa-La "mengelak" dengan apa yang sudah menjadi ketentuan dari-Nya. Dan manusia harus bias menerima dengan segala atributnya.
Sudah menjadi amanah bagi manusia untuk melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan dangan segala kemampuan yang sudah di beikan untuknya.

»        Pa Dha Ja Ya Nya = Padha digdayanĂ© (sama-sama sakti).
Menyatunya zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Merupakan penyatuan yang selaras dan seimbang, khususnya untuk seluruh hamba ciptaan-Nya dan tidak ada perbedaan sama sekali. Dan dalam penyatuan ini selalu membutuhkan penggalian dan pencerminan yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Karena pada dasarnya, Hamba yang diciptakan selalu diberikan jatah yang sama. Dan tidak melebihi dari insane lainnya. Soal berhasil dan tidaknya, itu tergantung dari perjuangan yang di tempuhnya. Yang di maksud berhasil disini, dimana insan menempuh jalur yang telah di tentukan. Dan tidak menyimpang dari tatanan.
Pa-Dha "sama" atau sesuai, cumbuh, cocok. Kesesuaian penetapan pada seluruh hamba-Nya.
Ja-Ya itu “berhasil” atau menang, unggul. Dimana kemenangan atau keberhasilan yang berjalan sesuai jalur-Nya. Dan inilah kemenangan yang sesungguhnya dan bukan hanya “sekedar menang” atau menang tidak sportif.
Nya merupakan yang “Maha Tunggal”. Tunggal (Manunggal dalam batin) yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan.

»        Ma Ga Ba Tha Nga = Padha dadi bathangĂ© (sama-sama menjadi mayat).
Menerima apa adanya, menerima apa yang sudah menjadi ketentuan dari-Nya. Menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Maksudnya manusia harus pasrah, sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya.


MAKNA HURUF

Ha
Hana hurip wening suci - adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci

Na
Nur candra,g aib candra, warsitaning candara - pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi

Ca
Cipta wening, cipta mandulu, cipta dadi-satu arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal

Ra
Rasaingsun handulusih - rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani

Ka
Karsaningsun memayuhayuning bawana - hasrat diarahkan untuk kesajetraan alam

Da
Dumadining dzat kang tanpa winangenan - menerima hidup apa adanya

Ta
Tatas, tutus, titis, titi lan wibawa - mendasar ,totalitas,satu visi, ketelitian dalam memandang hidup

Sa
Sifat ingsun handulu sifatullah - membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan

Wa
Wujud hana tan kena kinira - ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas

La
Lir handaya paseban jati - mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi

Pa
Papan kang tanpa kiblat - Hakekat Allah yang ada disegala arah

Dha
Dhuwur wekasane endek wiwitane - Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar

Ja
Jumbuhing kawula lan Gusti -selalu berusaha menyatu -memahami kehendak Nya

Ya
Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi - yakin atas titah /kodrat Illahi

Nya
Nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki - memahami kodrat kehidupan

Ma
Madep mantep manembah mring Ilahi - yakin - mantap dalam menyembah Ilahi

Ga
Guru sejati sing muruki - belajar pada guru nurani

Ba
Bayu sejati kang andalani - menyelaraskan diri pada gerak alam

Tha
Tukul saka niat - sesuatu harus dimulai - tumbuh dari niatan

Nga
Ngracut busananing manungso - melepaskan egoisme pribadi -manusia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar