- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Sabtu, 15 Januari 2011

10 WASIAT RASULULLAH UNTUK PARA ISTERI

Istri memegang peranan yang sangat penting dalam istana keluarganya. Maka ia dituntut untuk memahami peranan tersebut lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan berkeluarga. Berikut ada beberapa wasiat untuk mereka yang berhasrat menjadi istri yang mendambakan keluarga bahagia. Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua. Amin.

1.       TAQWA KEPADA ALLAH DAN MENJAUHI MAKSIAT
Bila engkau menginginkan kesengsaraan itu tetap terus bersarang di rumahmu dan tumbuh bertunas, maka bermaksiatlah kepada Allah. Niscaya engkau akan merasakan kesengsaraan yang tak akan ada hentinya. Sesungguhnya kemaksiatan itu akan menghancurkan negeri dan menggoncang kerajaan iman yang engkau miliki. Oleh karena itu janganlah engkau goncangkan rumahmu dengan berbuat maksiat kepada Allah.
Wahai hamba Allah .. !?! .. Jagalah Allah (melakukan apa yang di perintah dan menjauhi apa yang di larang) maka Dia akan menjagamu beserta keluarga dan rumahmu. Sesungguhnya ketaatan itu akan mengumpulkan hati dan mempersatukannya, sedangkan kemaksiatan itu akan mengoyak hati dan menceraiberaikan keutuhannya.
Karena itulah, salah seorang wanita shalihah jika mendapatkan sikap keras dan berpaling dari suaminya, ia berkata : ”Aku mohon ampun kepada Allah .. itu terjadi karena perbuatan tanganku (kesalahanku) .. ”Maka hati-hatilah wahai saudariku muslimah dari berbuat maksiat, khususnya :

»        Meninggalkan shalat atau mengakhirkannya atau menunaikannya dengan cara yang tidak benar.
»        Duduk di majlis ghibah dan namimah, berbuat riya dan sum’ah.
»        Menjelekkan dan mengejek orang lain. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang briman janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang menolok-olokkan) dan janganlah wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan”(QS. Al Hujurat: 11).
»        Keluar menuju pasar tanpa kepentingan yang sangat mendesak dan tanpa didampingi mahram. Rasulullah bersabda : ”Negeri yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjidnya dan negeri yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasarnya” (HR. Muslim).
»        Mendidik anak dengan pendidikan barat atau menyerahkan pendidikan anak kepada para pambantu dan pendidik-pendidik yang kafir.
»        Meniru wanita-wanita kafir. Rasulullah bersabda : ”Siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud serta dishahihkan Al-Albany).
»        Membiarkan suami dalam kemaksiatannya.
»        Tabarruj (pamer kecantikan) dan sufur (membuka wajah).
»        Membiarkan sopir dan pembantu masuk ke dalam rumah tanpa kepentingan yang mendesak.

2.       BERUPAYA MENGENAL DAN MEMAHAMI SUAMI
Hendaknya engkau berupaya memahami suamimu. Apa -apa yang ia sukai, berusahalah memenuhinya dan apa-apa yang ia benci, berupayalah untuk menjauhinya dengan catatan selama tidak dalam perkara maksiat kepada Allah karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khalik (Allah ‘Azza Wajalla).
Setiap insan yang  hidup di atas bumi, pastilah memiliki prinsip hidup. Karena dengan adanya prinsip (positif) hidup itulah insan dapat mengembangkan kreasi dan mendapat pedoman hidup yang subyektif. Prinsip boleh berbeda, tapi pengembangannya harus bisa selaras dan sehalauan. Agar apa yang terjadi dalam cerita hidup, dapat disimak dan direnungkan. Bila hal itu dapat di cerminkan, maka pemahaman yang berbeda akan selaras saling memberikan motifasi yang bermanfaat untuk keduanya (suami – istri).
Kekerasan hati dan teguh akan keyakinan (prinsip) memang harus ditunjukkan, agar semua yang menjadi pemikiran dalam mengurai pendapat, bisa di tampung dengan kesadaran dan kedewasaan. Dan dapat di cerminkan melalui kenyataan yang ada.
Menghormati dan memahami suami, memang sungguh amatlah sulit, apalagi keduanya mempunyai prinsip yang bertolak belakang. Tapi sebagai istri yang baik harus bisa menjunjung tinggi kewibawaan suaminya. Walau sang istri mempunyai dasar yang kuat dalam penyikapan, seharusnya mengarahkan dan bukan membantah atau memperdebatkannya. Bila demikian, maka keinginan untuk mewujudkan keluarga "Sakinah, Mawaddah, Warahman" tak akan dapat di capai.

3.       KETAATAN YANG NYATA KEPADA SUAMI DAN BERGAUL DENGAN BAIK
Sesungguhnya hak suami atas istrinya itu besar. Rasulullah bersabda : ”Seandainya aku boleh memerintahkanku seseorang sujud kepada orang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya”(HR. Imam Ahmad dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albany).
Hak suami yang pertama adalah ditaati dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah dan baik dalam bergaul dengannya serta tidak mendurhakainya. Rasulullah bersabda : ”Dua golongan yang shalatnya tidak akan melewati kepalanya, yaitu budak yang lari dari tuannya hingga ia kembali dan istri yang durhaka kepada suaminya hingga ia kembali” (HR. Thabrani dan Hakim, dishahihkan oleh Al-Albany).
Ketahuilah, engkau termasuk penduduk surga dengan izin Allah, jika engkau bertakwa kepada Allah dan taat kepada suamimu. Dengan ketaatanmu pada suami dan baiknya pergaulanmu terhadapnya, engkau akan menjdai sebaik-baik wanita (dengan izin Allah).

4.       BERSIKAP QANA’AH (MERASA CUKUP)
Kami menginginkan wanita muslimah ridha dengan apa yang diberikan untuknya baik itu sedikit ataupun banyak.
Maka janganlah ia menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu. Renungkanlah wahai saudariku muslimah, adabnya wanita salaf radhiallahu ‘anhunna.Salah seorang dari mereka bila suaminya hendak keluar rumah ia mewasiatkan satu wasiat kepadanya. Apakah itu .. ?!? .. Ia berkata pada suaminya : ”Hati-hatilah engkau wahai suamiku dari penghasilan yang haram, karena kami bisa bersabar dari rasa lapar namun kami tidak bisa bersabar dari api neraka.”

5.       BAIK DALAM MENGATUR URUSAN RUMAH TANGGA
Istri merupakan tangan kanan sang suami, atau merupakan wakil dari sang suami. Baik buruknya  perjalanan bahtera rumah tangga yang dibina, sang istri juga ikut andil dan mempunyai peranan penting untuk pembinaan anak-anak. Seperti mendidik anak-anak, baik itu pendidikan aklak maupun pendidikan formal (dilakukan sewaktu suami tidak ada dirumah).
Disamping itu, istri juga wajib menjaga dan merawat anak-anak, dan jangan sampai diserahkan pada pembantu sepenuhnya, menjaga kebersihan rumah dan menatanya dengan baik dan menyiapkan makan pada waktunya.
Termasuk pengaturan yang baik adalah istri membelanjakan harta suaminya pada tempatnya (dengan baik), maka ia tidak berlebih-lebihan dalam perhiasan dan alat-alat kecantikan.

6.       BAIK DALAM BERGAUL DENGAN KELUARGA SUAMI DAN KERABAT-KERABATNYA
Mengikat tali silaturahmi merupakan dasar untuk mendapatkan hidayah dari-Nya, Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT.
Dengan terhubungnya silaturahmi, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Bagaimana pun besarnya umat Islam secara kuantitatif, sama sekali tidak ada artinya bila di dalamnya tidak ada persatuan dan kerja sama untuk taat kepada Allah. Apalagi dalam pembinaan Bahtera Rumah Tangga, silaturahmi seyogiannya harus bisa di wujudkan. Baik itu dari keluarga suami, kerabat maupun teman. Khusunya orang tua suami sebagai orang yang paling dekat dengannya.
Wajib bagimu untuk menampakkan kecintaan kepadanya, bersikap lembut, menunjukkan rasa hormat, bersabar atas kekeliruannya dan engkau melaksanakan semua perintahnya selama tidak bermaksiat kepada Allah semampumu.

7.       MENYERTAI SUAMI DALAM PERASAANNYA DAN TURUT MERASAKAN DUKA DAN KESEDIHANNYA
Jika engkau ingin hidup dalam hati suamimu, maka sertailah ia dalam duka cita dan kesedihannya. Renungkanlah wahai saudariku kedudukan Ummul Mukminin, Khadijah radhiallahu ‘anha, dalam hati Rasulullah walaupun ia telah meninggal dunia.. Kecintaan beliau kepada Khadijah tetap bersemi sepanjang hidup beliau, kenangan bersama Khadijah tidak terkikis oleh panjangnya masa. Bahkan terus mengenangnya dan bertutur tentang andilnya dalam ujian, kesulitan dan musibah yang dihadapi. Seorangpun tidak akan lupa perkataannya yang masyur sehingga menjadikan Rasulullah merasakan ketenangan setelah terguncang dan merasa bahagia setelah bersedih hati ketika turun wahyu pada kali pertama : ”Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Karena sungguh engkau menyambung silaturahmi, menaggung orang lemah, menutup kebutuhan orang yang tidak punya dan engkau menolong setiap upaya menegakkan kebenaran”.(HR. Mutafaq alaihi, Bukhary dan Muslim).

8.       BERSYUKUR (BERTERIMA KASIH) KEPADA SUAMI ATAS KEBAIKAANNYA DAN TIDAK MELUPAKAN KEUTAMAANNYA
 “Hak suami atas isteri adalah isteri hendaknya menyalakan lampu untuknya, memasakkan makanan, menyambutnya di pintu rumah saat ia datang, membawakan untuknya bejana air dan kain sapu tangan lalu mencuci tangan dan mukanya, dan tidak menghindar saat suami menginginkan dirinya kecuali ia sedang sakit.” (Makarim Al-Akhlaq: 215)

Wahai istri yang mulia .. !?! .. Rasa terima kasih pada suami, dapat engkau tunjukkan dengan senyuman manis di wajahmu, dimana senyuman itu bisa menimbulkan kesan di hatinya, hingga terasa ringan baginya kesulitan yang dijumpai dalam pekerjaannya.
Atau engkau ungkapkan dengan kata-kata cinta yang memikat yang dapat menyegarkan kembali cintamu di hatinya. Atau memaafkan kesalahan dan kekurangannya dalam menunaikan hak-hakmu dengan membandingkan lautan keutamaan dan kebaikannya kepadamu.

Isteri tidak boleh memancing emosi suaminya, Rasulullah saw bersabda:
Isteri yang memaksa suaminya untuk memberikan nafkah di luar batas kemampuannya, tidak akan diterima Allah swt amal perbuatannya sampai ia bertaubat dan meminta nafkah semampu suaminya.” (Makarim Al-Akhlaq: 202).

Ada suatu kisah, pada suatu hari seorang sahabat mendatangi Rasulullah dan berkata : “Ya Rasulullah, aku memiliki seorang isteri yang selalu menyambutku ketika aku datang dan mengantarku saat aku keluar rumah. Jika ia melihatku termenung, ia sering menyapaku dengan mengatakan: Ada apa denganmu ?!? Apa yang kau risaukan? Jika rizkimu yang kau risaukan, ketahuilah bahwa rizkimu ada di tangan Allah. Tapi jika yang kau risaukan adalah urusan akhirat, semoga Allah menambah rasa risaumu.”

Setelah mendengar cerita sahabatnya Rasulullah saw bersabda:
Sampaikan kabar gembira kepadanya tentang surga yang sedang menunggunya! Dan katakan padanya, bahwa ia termasuk salah satu pekerja Allah. Allah swt mencatat baginya setiap hari pahala tujuh puluh syuhada’.” Kisah ini terdapat dalam kitab Makarimul Akhlaq : 200.


9.       MENYIMPAN RAHASIA SUAMI DAN MENUTUPI KEKURANGANNYA (AIBNYA)
Istri adalah tempat rahasia suami dan orang yang paling dekat dengannya serta paling tahu kekhususannya. Bila menyebarkan rahasia merupakan sifat yang tercela untuk dilakukan oleh siapapun, maka dari sisi istri lebih besar dan lebih jelek lagi. Saudariku, simpanlah rahasia-rahasia suamimu, tutuplah aibnya dan jangan engkau tampakkan kecuali karena maslahat yang syar’I seperti mengadukan perbuatan dhalim kepada Hakim atau Mufti atau orang yang engkau harapkan nasehatnya.

10.   KECERDASAN DAN KECERDIKAN SERTA BERHATI-HATI DARI KESALAHAN
Termasuk kesalahan adalah : Seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan sebagian wanita yang dikenalnya kepada suaminya. Padahal Rasulullah telah melarang hal itu dalam sabdanya : ”Janganlah seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu mensifatkan wanita itu kepada suaminya sehingga seakan-akan suaminya melihatnya” (HR. Bukhary dalam An-Nikah).

Cucu Rasulullah saw Imam Ali Zainal Abidin (sa) berkata:
 “Adapun hak isteri, ketahuilah sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah menjadikan untukmu dia sebagai sumber sakinah dan kasih sayang. Maka, hendaknya kau sadari hal itu sebagai nikmat dari Allah yang harus kau muliakan dan bersikap lembut padanya, walaupun hakmu atasnya lebih wajib baginya. Karena ia adalah keluargamu Engkau wajib menyayanginya, memberi makan, memberi pakaian, dan memaafkan kesalahannya.”

Untuk para istri yang berhasrat menjadi penyejuk hati dan mata suaminya. Semoga Allah memeliharamu dalam naungan kasih sayang dan rahmatNya. Amin.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar