- Motivasi - "Cara terbaik untuk menghargai kejadian yang hadir menerpa, hanya dengan menikmatinya tanpa memiliki penilaian negatif" .. Pujangga Giras - Cak Dion's Lapendoz - Pujangga Giras

<< Hargai karya orang lain, "NO - PLAGIAT" >>

Jumat, 15 Juni 2012

UDARA PETUNJUK ALLAH YANG KE TIGA

Udara merupakan sumber inti dari kehidupan seluruh makluk hidup yang ada di alam dunia. Disamping menjadi sumber inti dari kehidupan, udara juga dapat dikatakan sebagai penompang hidup setiap insan, dalam hal ini udara dipeuntukkan untuk menempuh perjalanan hidup, demi menelusuri serta untuk menyimak rona-rona kehidupandi alam ini.

Tanpa adanya udara di lingkup alam nyata ini, maupun dalam diri insan. Kegerehan maupun kepenatan dalam melangkah, pasti akan dirasakannya, dan insan itu sendiripun tak akan bebas untuk bergerak, baik itu gerakan udara yang memasuki ruang alam nyata maupun ruangan yang ada diri insan itu sendiri.
Walau wujud nyatanya tak berbentuk, tapi bias yang di pancarkan begitu amat terasa. Ketika udara itu berkumpul dan menyatu, maka terciptalah kekuatan yang amat besar, disamping itu rintisan yang dilakukan dapat memetik serta menghantarkan penalaran dalam perenungan.

Dalam kekuasaan Yang Maha Tinggi, Allah Yang Maha Ghoib meniupkan atau menghembuskan "Dzat Hidup" pada diri setiap makluk hidup, kemudian di tampung kejantung. Dan dari jantung itulah unsur sel pada diri insan mulai tersaluri. Dan dari jantung itu pula, insan mulai bisa merasakan dan mulai bisa bergerak maupun bekerja.

Sudah seharusnya keseimbangan aktifitas insan itu diseimbangkan dengan getaran rasa yang terdapat dan ada di dalam hati sanubari pada diri insan.
Karena dengan demikian, ruang gerak yang akan tercermin tak akan terpengaruhi oleh getaran udara nafsu yang ingin menguasai diri insan.

Sampai kapanpun, dan semenjak alam ini terbentuk atau semenjak insan ditiupkan dengan nafas kehidupan, udara berdebukan nafsu senantiasa mencari sela untuk memasuki ruang kesadaran insan. Dan sampai sekarangpun udara berdebukan nafsu tersebut tetap mengiringi jejak rintisan yang dilakukan oleh setiap insan.

Untuk itulah banyak cara yang dilakukan oleh insan untuk membersihkan diri dari debu nafsu yang sudah bersarang pada dirinya. Semuanya tak lepas dari pengontrolan diri, pengupasan diri dan yang paling utama adalah perenungan diri dalam mencapai keheningan yang diciptakan oleh rasa dengan kebersihan hati.

Walau keheningan rasa dalam kebersihan hati udah tercapai, akan tetapi debu nafsu itu tetap saja menunggu sampai terbukanya sela kelengahan yang diciptakan oleh insan. Sekali saja pintu itu terbuka, maka kehancuran akan siap-siap insan sandang serta insan rasakan.

Karena semakin besar kesadaran dan pemahaman insan tentang kupasan, semakin besar pula kadar debu nafsu yang akan memasuki sela itu.
Dalam kedudukan yang selaras dengan jalur keimanan, rintisan debu nafsu yang tumbuh pasti ada sisi baik dan sisi buruk. Semua ini tergantung dari langkah perjuangan yang insan tempuh. Sekali saja cerminan perjuangan itu salah langkah, debu hawa nafsu akan bebas menerobos masuk dan menduduki tempat yang paling strategis pada diri insan. Dan debu nafsupun berbaur menjadi satu pada unsur terpenting, dan diapun bergerak selaras dengar harus niat dan keinginan insan.

Bila hal ini benar-benar menyatu, maka insan itu sendiri akan sulit untuk membedakan, mana hawa kemurnian hati nurani dan mana hawa berdebu yang bersymbolkan nafsu.
Beruntunglah bagi insan yang mau mengfungsikan sirkulasi udara yang ada pada dirinya.
Dan bisa mendesak keluar debu yang bergayut menyelubungi nian dan keinginannya. Serta secara bertahap mengusap serta membersihkan debu yang melekat.

Ketika di seimbangkan dengan rasa dalam perjalanan hidup, maka mulai saat itulah perhimpunan disela-sela rongga tubuh mulai dapat bekerja dalam menempuh usia. Kemurnian untuk membasuh usia yang di amanahkan, sudah seharusnya insan di wajibkan menjaga, merawat serta memelihara usia sesuai hamparan yang sudah menjadi ketentuan dariNYA.
Dalam perjalanan menempuh usia yang dipercayakan olehNYA, insan dianjurkan untuk selalu menyelaraskan dengan cerminan langkah dan rasa, agar udara yang mengisi rongga tubuh tetap bersih dalam kemurnian yang sesungguhnya.

Didalam diri insan yang tidak terlihat dan tidak tersentuh, di situ ada sesuatu dan sebelenggu berkah yang maha besar, dan disitu pula tercetus pijaran kupasan yang begitu bermakna. Dan menjadi singgasana penggerak ruang pada setiap insan.
Gerakan udara di dalam tubuh insan begitu perlahan dan amatlah teratur, dan menetralisirkan rongga yang di laluinya.
Akan tetapi walau bergerak perlahan dan teratur, tapi rasa yang di timbulkan begitu amat terasa dan mengandung rasa bersyukur yang tak terhingga.
Disaat arus udara itu lepas meninggal jasad insan, insanpun menjadi tak berdaya, dan insanpun hanya bisa meninggalkan kenangan dari bias udara yang menyentuhnya.

Mengingat akan pentingmya unsur udara bagi seluruh makluk hidup, khususnya insan yang di bekali petunjuk untuk melintasi kesempurnaan, sudah seharusnya insan mensyukuri segala kaidah udara yang memenuhi ruangan, dan bukan mengabaikan dengan tindakan yang bisa mencemari kemurnian udara.

Bila dapat di cermati dan diteliti dengan kemurnian hati dalam sadar, mengapa insan masih berlaku culas dengan sesamanya, serta begitu tega mencemari udara dengan berbagai kebusukan demi tercapai segala apa yang di inginkannya.
Dalam merintis kebusukan yang bersarang dalam hasrat, insan tak tanggung-tanggung untuk menggunakan berbagai cara, dan tak mengindahkan akan larangan dalam ketentuan yang telah ditetapkan olehNYA.

Yang lebih mengherankan lagi, justru insan membiarkan udara yang telah dihembuskan oleh Allah, di cemari oleh segala nafsu-nafsu iblis yang insan dapatkan dari kenikmatan semu.
Ketika jalan nafas tidak dapat lagi mendapatkan hawa bersih, para saksi duniapun siap melihat kematian yang sangat menggenaskan.
Bila sudah demikian halnya, penyesalan di akhir perjalanan hidup, tak ada artinya sama sekali.
Mengetahui akan hal ini, mengapa insan tidak cepat-cepat berfikir dan bertindak, sebelum semuanya terlambat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar